Pengumpan:
Tulisan
Komentar

Kita sudah sering melihat atau mendengar tupang sari antara cabai dan bawang merah, dan bukanlah merupakan hal baru bagi petani. namun bagai mana caranya agar tumpang sari tersebut menjadi benar-benar optimal itu yang sulit, kebanyakan tumpang sari cabai-bawang merah yaitu dengan menanam bawang merah dulu baru stelah bawang merah separuh jalan cabai di tanam kemudian… tapi apakah kebutuhan keduanya ngga terbalik??? dimana saat tanaman bawang merah memasuki fase perbesaran umbi sedangkan cabai masih tahap pertumbuhan vegetativ awal… jadi kebutuhannya ngga sama.

Nah sekarang bagai mana kalau kita balik, kita tanam cabai dulu baru kemudian bawang merah (karena bawang merah berumur pendek maka di tanam belakangan) lalu bagaimana agar tak terjadi kompetisi berlebihan terutama akan kebutuhan sinar matahari? caranya yaitu di tanam bersebelahan, lihat gambar di bawah ini:

Tumpangsari Cabai dan Bawang Merah

Tumpangsari Cabai dan Bawang MerahCabai dan bawang merah ditanam berdampingan sesuai posisi matahari

Salah satu keharusan sitem tumpangsari dengan cara ini yaitu bedengan/guludan harus mengarah barat-timur, agar sinar matahari merata mengenai daun tanaman, dan agar lebih optimal dalam pemanfaatan sinar matahari, kita harus memperhatikan posisi matahari. Bila saat musim kemarau posisi matahari cenderung di sebelah utara sehingga cabai di tanam pada baris sebelah selatan dan bawang merah di

Tumpang Sari Cabai dan Bawang Merah

Tumpang Sari Cabai dan Bawang Merah

sebelah utara karena posisi bawang merah lebih rendah dibanding cabai, dan bila musim penghujan dimana kecenderungan matahari condong ke selatan maka bawang merah di tanam di sebelah selatan tanaman cabai. Ini di lakukan agar kompetisi akan sinar matahari dapat diminimalkan.

Dan untuk penanaman sebaiknya cabai ditanam terlebih dahulu dengan selisih sekitar 10-15 hari kemudian menyusul bawang merahnya, ini dimaksudkan agar pertumbuhan kedua tanaman tersebut seiring sejalan, saat tanaman cabai dalam tahap vegetatif  bawang merahpun juga pada tahap yang sama. Dan saat tanaman cabai pada tahap pembesaran buah, bawang merah juga memasuki tahap pembesaran umbi, jadi kebutuhan kedua tanaman tersebut bisa seiring sejalan, dan bila dilakuakn penambahan nutrisi dari luar (misal di semprot dengan pupuk daun) maka sesuai dengan kebutuhan keduanya, dengan demikian diharapkan pertumbuhannya lebih maksimal daripada bila ditanam dengan tahap pertumbuhan yang berbeda.

Dan agar populasi cabai tidak terlalu banyak berkurang akibat tumpang sari ini,maka jarak tanam diperpendek menjadi +- 45 cm, sedangkan  untuk bawang merah dengan jarak tanam 25X25 cm atau 25X27 cm.
Silahkan mencoba, semoga bermanfaat

Ide tumpang sari  ini hanya terlintas saja di benak saya, dan saya belum sempat mencoba, dan setelah saya sampaikan pada sahabat saya dia malah duluan yang mempraktekkan dan  hasilnya  cukup memuaskan. Jadi untuk komplin teknis tumpang sari diatas, saya cuci tangan karena saya belum pernah mencoba heheheheh

JUMPA LAGI

Alhamdulillahirobbil ‘alamiin… Setelah ngga aktif di blog hampir 2 tahun, akhirnya benci dan rindu akan nge-blog membuatku kembali.
Sampe bingung melihat fitur-fitur di Dashboard… hehehe….
Ayo… bersama kita share disini… kalau ada yang punyapengalaman/ info/artikel tentang pertanian atau kehidupan pegal/lelah seorang petani, silahkan kirim ke email aku tohariyusuf@gmail.com sebutkan nama dan alamat lengkap kalau perlu, ataupun alamat situs… ayo berbagi….

Sebetulnya saya belum pernah menanam tembakau, namun dari sudut teori saya mempunyai bebrapa letteratur yang mungkin bermanfaat untuk para petani tembakau, dan mampu menjawab pertanyaan mengapa tanaman tembakau peka terhadap pupuk KCl, atau dalam kehidupan keseharian ada ungkapan “Jangan menggunakan pupuk KCL terlalu banyak saat menanam tembakau”.

Sebenarnya pupuk KCl itu diambil unsur K (kalium)nya saja dalam tanaman tembakau yang di butuhkan dalam jumlah besar, sedangkan Unsur Cl (Clor) lebih bersifat mengganggu kualitas daun tembakau. Maka dari itu marilah kita bahas tentang kebutuhan tembakau akan unsur K (Kalium) dan efek Cl (Clhor) dalam pupuk KCl.

Kalium dibutuhkan dalam jumlah yang besar untuk pertumbuhan dan nutrisi tanaman tembakau dan kandungan yang relatif tinggi untuk tembakau agar kualitasnya baik (Jones, 1979). Kekurangan unsur K akan menunjukkan gejala daun menguning, ada noda-noda jaringan mati ditengah lembaran atau di sepanjang tepi daun, batang kurang kuat hingga mudah terpatahkan oleh angin.(Dwijosputro, 1994). Tanaman tembakau menyerap kalium lebih banyak dibanding unsur hara lain. Kualitas tembakau dapat terus ditingkatkan dengan meningkatkan dosis kalium di atas jumlah yang dibutuhkan untuk hasil maksimum. Kalium (K) biasanya diserap cepat pada permulaan dan sebaliknya penyerapan kalium (K) menurun dengan cepat pada akhir pertumbuhan (Tso, 1972). Kandungan kalium (K) lebih besar pada petikan awal, dan pada saat petikan akhir kandungan K sudah (Shinta Kusumawati 1994).Kadar kalium (K) dalam tembakau yaug berkualitas baik berkisar antara 3.0 hingga 3.3%.Bahkan kandungan K kebanyakan belum mencukupi persyaratan persentase K dalam daun tembakau yang berkualitas baik yaitu sekitar 3.0-3.3 % (Hawks dan Collins, 1983). Sehingga penambahan pupuk K sangat dibutuhkan dalam budidaya tanaman tembakau, padahal setiap penambahan unsur hara kalium pada umumya selalu menambahakan unsur Cl (Clhor), karena kebanyakan pupuk kalium yang ada dipasaran dan yang mudah didapat serta berharga murah mengandung clhor yang cukup tinggi, misal KCl dan ZK, pupuk yang tidak mengandung clhor biasanya berharga mahal, sedangkan unsur clhor (Cl) akan menurunkan kualitas daun tembakau berikut efek negatif dr Cl pada daun tembakau.Khlor dalam daun tembakau yang baik yaitu lebih kecil dari 1 % (Hawks dan Collins, 1983). Khlor dapat diserap hingga jumlahnya mencapai 10 % dalam tanaman,namun hal ini dapat menimbulkan gangguan pada tanaman. Bila kandungan Cl berkisar antara 4-5 % dalam daun, akan mengakibatkan terhambatnya metabolisme karbohidrat (Garner, 1951). Peranan Cl belum dapat dijelaskan dengan pasti, meski Cl berhubungandengan fotosintesis yang menghasilkan oksigen. Diduga unsur ini terlibat dalam sekurang-kurangnya sebuah enzim yang sifat kimianya belum diketahui(Loveless, ).  Kelebihan Cl menunjukkan gejala daun menjadi hijau tua, sangat tebal, tepi daun menekuk ke atas dan permukaan daun licin (McCants dan Woltz, 1967).Krosok menunjukkan gejala warna tidak rata dan kotor, sangat higroskopis, dalam pemeraman warna krosok akan menjadi semakin gelap dan muncul bau tidak enak. Selain itu kandungan Cl yang tinggi dalam daun dapat mengakibatkan penurunan mutu, dan aroma, serta semakin menurunkan daya bakar (Akehurst, 1981). Higrokospisitas daun meningkat dengan meningkatnya khlor dalam daun. Kadar Cl dalam tembakau yang baik adalah kurang dari 1 % (Hawks dan Collins, 1983). Klor cenderung menurun seiring dengan pertambahan usia tanaman. Jadi penambahan pupuk kalium (K) yang terjadi di masyarakat umum adalah seperti buah si malakama, sisi lain petani sangat membutuhkan kalium namun seiring dengan penambahan kalium (K) (misal penambahan pupuk KCl dan ZK) maka keberadaan unsur clhor yang pada dasarnya di butuhkan sangat sedikit semakin meningkat pula, kecuali bila yang digunakan adalah potasium nitrat (KNO3). Pupuk ini mengandung K20 sebesar 45 % dan 13% N dalam bentuk nitrat sehingga mudah diserap oleh tanaman walaupun nitrat mudah tercuci bila dibandingkandengan bentuk N dalam pupuk yang lain, misalnya ammonium. Keuntungan lain dalam penggunaan sumber N dalam bentuk nitrat adalah tidak mudah menguap dan nitrat tidak bersaing dengan kation K+ dan Mg2+ dalam absorbsi maupun translokasinya (Murdiyati, Buadi dan Rachman, 1993). Dan pupuk ini tidak mengandung clhor (Cl), salah satu kelemahan pupuk ini adalah mudah tercuci dan berharga mahal.  Dan perlu diingat lagi perilaku petani saat menanam sebelum tanaman tembakau bila terlalu menggunakan pupuk KCL ataupun ZK yang tinggi maka Clor (Cl) yang tersisa masih sangat berpengaruh terhadap tanaman tembakau yang di tanam setelahnya. Berikut Kandungan Unsur Kimia dalam Daun Tengah Tembakau Virginia yang Berkualitas Baik. (Hawks dan Collins, 1983).

Unsur Kisaran Jumlah Unsur dalam Daun (%)
Nitrogen  (N)

1.4-2.7

Pospor (P)

0.2

Kalium (K)

3.00-3.33

Calsium (Ca)

1.5-2.0

Magnesium (Mg)

0.86

Clhore (Cl)

<1

Nikotin

1.5-3.5

Kandungan Gula

8-18

Daftar Pustaka:

AKEHURST, B. C. 1981. Tobacco. Longman. London.

A.R. Loveless. 1987. Prinsip-prinsip Biologi Tumbuhan untuk Daerah Tropik 1. Alih bahasa kuswata Kartawinata dkk. Jakarta: PT Gramedia.

Dwijosputo PROF. DR. 1994. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta 10270.

HAWKS, JR., s.N. and W.K. COLLINS. 1983. Principles of fluecured tobacco production. N.C. Univ.,

MCCANTS, C. B., and W. G. WOLTZ. 1967. Growth and mineral
nutrition of tobacco. Adv. In Agron. 19

MUKANI, A. S. MURDIYATI, SUWARSO, dan A. RACHMAN.1992. Sigi produktivitas dan mutu tembakau virginiadi Kabupaten Bojonegoro. Penelitian KerjasamaBalittas-Disbun TK I Prop. Jatim.- PT PR Djarum.

RACHMAN, A., B. SAROSO, A. S. MURDIYATI, dan DJAYADI. 1986. Pengaruh pemupukan KCI pada padi terhadap kadar C1 krosok tembakau virginia yang ditanamsesudah padi. Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat.

Tulisan Sebelumnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.