<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>TOHARI YUSUF&#039;s PerTANIan BLoG</title>
	<atom:link href="http://tohariyusuf.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://tohariyusuf.wordpress.com</link>
	<description>MEDIA PERTANIAN  PLUS  &#34;Sedikit yang Kita Ketahui Marilah Kita Bagi, Sedikit yang  Kita Bisa, Marilah Kita Amalkan&#34;</description>
	<lastBuildDate>Tue, 21 Feb 2012 12:25:59 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='tohariyusuf.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://1.gravatar.com/blavatar/dd9f3e7b024ecc9c6436c3602a962ade?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>TOHARI YUSUF&#039;s PerTANIan BLoG</title>
		<link>http://tohariyusuf.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://tohariyusuf.wordpress.com/osd.xml" title="TOHARI YUSUF&#039;s PerTANIan BLoG" />
	<atom:link rel='hub' href='http://tohariyusuf.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Tumpang Sari Unik antara Cabai dan Bawang Merah</title>
		<link>http://tohariyusuf.wordpress.com/2011/12/15/tumpangsari-unik-antara-cabai-dan-bawang-merah/</link>
		<comments>http://tohariyusuf.wordpress.com/2011/12/15/tumpangsari-unik-antara-cabai-dan-bawang-merah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Dec 2011 12:20:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>TOHARI YUSUF</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budi Daya]]></category>
		<category><![CDATA[tumapang sari unik]]></category>
		<category><![CDATA[tumpang sari]]></category>
		<category><![CDATA[tumpang sari cabai dan bawang merah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tohariyusuf.wordpress.com/?p=380</guid>
		<description><![CDATA[Kita sudah sering melihat atau mendengar tupang sari antara cabai dan bawang merah, dan bukanlah merupakan hal baru bagi petani. namun bagai mana caranya agar tumpang sari tersebut menjadi benar-benar optimal itu yang sulit, kebanyakan tumpang sari cabai-bawang merah yaitu dengan menanam bawang merah dulu baru stelah bawang merah separuh jalan cabai di tanam kemudian&#8230; [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tohariyusuf.wordpress.com&amp;blog=3257335&amp;post=380&amp;subd=tohariyusuf&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kita sudah sering melihat atau mendengar tupang sari antara cabai dan bawang merah, dan bukanlah merupakan hal baru bagi petani. namun bagai mana caranya agar tumpang sari tersebut menjadi benar-benar optimal itu yang sulit, kebanyakan tumpang sari cabai-bawang merah yaitu dengan menanam bawang merah dulu baru stelah bawang merah separuh jalan cabai di tanam kemudian&#8230; tapi apakah kebutuhan keduanya ngga terbalik??? dimana saat tanaman bawang merah memasuki fase perbesaran umbi sedangkan cabai masih tahap pertumbuhan vegetativ awal&#8230; jadi kebutuhannya ngga sama.</p>
<p>Nah sekarang bagai mana kalau kita balik, kita tanam cabai dulu baru kemudian bawang merah (karena bawang merah berumur pendek maka di tanam belakangan) lalu bagaimana agar tak terjadi kompetisi berlebihan terutama akan kebutuhan sinar matahari? caranya yaitu di tanam bersebelahan, lihat gambar di bawah ini:</p>
<div id="attachment_382" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://tohariyusuf.files.wordpress.com/2011/12/dsc07034.jpg"><img class="size-medium wp-image-382" title="Tumpangsari Cabai dan Bawang Merah" src="http://tohariyusuf.files.wordpress.com/2011/12/dsc07034.jpg?w=300&#038;h=225" alt="Tumpangsari Cabai dan Bawang Merah" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Tumpangsari Cabai dan Bawang MerahCabai dan bawang merah ditanam berdampingan sesuai posisi matahari</p></div>
<p>Salah satu keharusan sitem tumpangsari dengan cara ini yaitu bedengan/guludan harus mengarah barat-timur, agar sinar matahari merata mengenai daun tanaman, dan agar lebih optimal dalam pemanfaatan sinar matahari, kita harus memperhatikan posisi matahari. Bila saat musim kemarau posisi matahari cenderung di sebelah utara sehingga cabai di tanam pada baris sebelah selatan dan bawang merah di</p>
<div id="attachment_388" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://tohariyusuf.files.wordpress.com/2011/12/dsc070331.jpg"><img class="size-medium wp-image-388" title="Tumpang Sari Cabai dan Bawang Merah" src="http://tohariyusuf.files.wordpress.com/2011/12/dsc070331.jpg?w=300&#038;h=225" alt="Tumpang Sari Cabai dan Bawang Merah" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Tumpang Sari Cabai dan Bawang Merah</p></div>
<p>sebelah utara karena posisi bawang merah lebih rendah dibanding cabai, dan bila musim penghujan dimana kecenderungan matahari condong ke selatan maka bawang merah di tanam di sebelah selatan tanaman cabai. Ini di lakukan agar kompetisi akan sinar matahari dapat diminimalkan.</p>
<p>Dan untuk penanaman sebaiknya cabai ditanam terlebih dahulu dengan selisih sekitar 10-15 hari kemudian menyusul bawang merahnya, ini dimaksudkan agar pertumbuhan kedua tanaman tersebut seiring sejalan, saat tanaman cabai dalam tahap vegetatif  bawang merahpun juga pada tahap yang sama. Dan saat tanaman cabai pada tahap pembesaran buah, bawang merah juga memasuki tahap pembesaran umbi, jadi kebutuhan kedua tanaman tersebut bisa seiring sejalan, dan bila dilakuakn penambahan nutrisi dari luar (misal di semprot dengan pupuk daun) maka sesuai dengan kebutuhan keduanya, dengan demikian diharapkan pertumbuhannya lebih maksimal daripada bila ditanam dengan tahap pertumbuhan yang berbeda.</p>
<p>Dan agar populasi cabai tidak terlalu banyak berkurang akibat tumpang sari ini,maka jarak tanam diperpendek menjadi +- 45 cm, sedangkan  untuk bawang merah dengan jarak tanam 25X25 cm atau 25X27 cm.<br />
Silahkan mencoba, semoga bermanfaat</p>
<p><em>Ide tumpang sari  ini hanya terlintas saja di benak saya, dan saya belum sempat mencoba, dan setelah saya sampaikan pada sahabat saya dia malah duluan yang mempraktekkan dan  hasilnya  cukup memuaskan. Jadi untuk komplin teknis tumpang sari diatas, saya cuci tangan karena saya belum pernah mencoba heheheheh</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tohariyusuf.wordpress.com/380/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tohariyusuf.wordpress.com/380/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tohariyusuf.wordpress.com/380/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tohariyusuf.wordpress.com/380/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tohariyusuf.wordpress.com/380/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tohariyusuf.wordpress.com/380/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tohariyusuf.wordpress.com/380/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tohariyusuf.wordpress.com/380/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tohariyusuf.wordpress.com/380/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tohariyusuf.wordpress.com/380/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tohariyusuf.wordpress.com/380/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tohariyusuf.wordpress.com/380/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tohariyusuf.wordpress.com/380/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tohariyusuf.wordpress.com/380/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tohariyusuf.wordpress.com&amp;blog=3257335&amp;post=380&amp;subd=tohariyusuf&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tohariyusuf.wordpress.com/2011/12/15/tumpangsari-unik-antara-cabai-dan-bawang-merah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		<georss:point>-8.201022 111.973777</georss:point>
		<geo:lat>-8.201022</geo:lat>
		<geo:long>111.973777</geo:long>
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/85b6f615e8bd7ec86ab5254a97e6c138?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">TOHARI YUSUF</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tohariyusuf.files.wordpress.com/2011/12/dsc07034.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Tumpangsari Cabai dan Bawang Merah</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tohariyusuf.files.wordpress.com/2011/12/dsc070331.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Tumpang Sari Cabai dan Bawang Merah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>JUMPA LAGI</title>
		<link>http://tohariyusuf.wordpress.com/2011/12/15/jumpa-lagi/</link>
		<comments>http://tohariyusuf.wordpress.com/2011/12/15/jumpa-lagi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Dec 2011 05:45:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>TOHARI YUSUF</dc:creator>
				<category><![CDATA[1]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tohariyusuf.wordpress.com/?p=376</guid>
		<description><![CDATA[Alhamdulillahirobbil &#8216;alamiin&#8230; Setelah ngga aktif di blog hampir 2 tahun, akhirnya benci dan rindu akan nge-blog membuatku kembali. Sampe bingung melihat fitur-fitur di Dashboard&#8230; hehehe&#8230;. Ayo&#8230; bersama kita share disini&#8230; kalau ada yang punyapengalaman/ info/artikel tentang pertanian atau kehidupan pegal/lelah seorang petani, silahkan kirim ke email aku tohariyusuf@gmail.com sebutkan nama dan alamat lengkap kalau perlu, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tohariyusuf.wordpress.com&amp;blog=3257335&amp;post=376&amp;subd=tohariyusuf&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Alhamdulillahirobbil &#8216;alamiin&#8230; Setelah ngga aktif di blog hampir 2 tahun, akhirnya benci dan rindu akan nge-blog membuatku kembali.</strong></em><br />
<em><strong>Sampe bingung melihat fitur-fitur di Dashboard&#8230; hehehe&#8230;.</strong></em><br />
<em><strong>Ayo&#8230; bersama kita share disini&#8230; kalau ada yang punyapengalaman/ info/artikel tentang pertanian atau kehidupan pegal/lelah seorang petani, silahkan kirim ke email aku tohariyusuf@gmail.com sebutkan nama dan alamat lengkap kalau perlu, ataupun alamat situs&#8230; ayo berbagi&#8230;.</strong></em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tohariyusuf.wordpress.com/376/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tohariyusuf.wordpress.com/376/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tohariyusuf.wordpress.com/376/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tohariyusuf.wordpress.com/376/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tohariyusuf.wordpress.com/376/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tohariyusuf.wordpress.com/376/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tohariyusuf.wordpress.com/376/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tohariyusuf.wordpress.com/376/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tohariyusuf.wordpress.com/376/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tohariyusuf.wordpress.com/376/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tohariyusuf.wordpress.com/376/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tohariyusuf.wordpress.com/376/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tohariyusuf.wordpress.com/376/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tohariyusuf.wordpress.com/376/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tohariyusuf.wordpress.com&amp;blog=3257335&amp;post=376&amp;subd=tohariyusuf&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tohariyusuf.wordpress.com/2011/12/15/jumpa-lagi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		<georss:point>-8.201022 111.973777</georss:point>
		<geo:lat>-8.201022</geo:lat>
		<geo:long>111.973777</geo:long>
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/85b6f615e8bd7ec86ab5254a97e6c138?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">TOHARI YUSUF</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pengaruh Kalium dan Clhor Terhadap HasilTembakau</title>
		<link>http://tohariyusuf.wordpress.com/2010/09/21/pengaruh-kalium-dan-clhor-terhadap-hasiltembakau/</link>
		<comments>http://tohariyusuf.wordpress.com/2010/09/21/pengaruh-kalium-dan-clhor-terhadap-hasiltembakau/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Sep 2010 04:37:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>TOHARI YUSUF</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pupuk dan pemupukan]]></category>
		<category><![CDATA[Unsur Hara]]></category>
		<category><![CDATA[Fungsi Kalium pada tembakau]]></category>
		<category><![CDATA[KCl]]></category>
		<category><![CDATA[Pengaruh Clhor terhadap tembakau]]></category>
		<category><![CDATA[Tembakau]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tohariyusuf.wordpress.com/?p=368</guid>
		<description><![CDATA[Sebetulnya saya belum pernah menanam tembakau, namun dari sudut teori saya mempunyai bebrapa letteratur yang mungkin bermanfaat untuk para petani tembakau, dan mampu menjawab pertanyaan mengapa tanaman tembakau peka terhadap pupuk KCl, atau dalam kehidupan keseharian ada ungkapan &#8220;Jangan menggunakan pupuk KCL terlalu banyak saat menanam tembakau&#8221;. Sebenarnya pupuk KCl itu diambil unsur K (kalium)nya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tohariyusuf.wordpress.com&amp;blog=3257335&amp;post=368&amp;subd=tohariyusuf&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebetulnya saya belum pernah menanam tembakau, namun dari sudut teori saya mempunyai bebrapa letteratur yang mungkin bermanfaat untuk para petani tembakau, dan mampu menjawab pertanyaan mengapa tanaman tembakau peka terhadap pupuk KCl, atau dalam kehidupan keseharian ada ungkapan &#8220;Jangan menggunakan pupuk KCL terlalu banyak saat menanam tembakau&#8221;.</p>
<p>Sebenarnya pupuk KCl itu diambil unsur K (kalium)nya saja dalam tanaman tembakau yang di butuhkan dalam jumlah besar, sedangkan Unsur Cl (Clor) lebih bersifat mengganggu kualitas daun tembakau. Maka dari itu marilah kita bahas tentang kebutuhan tembakau akan unsur K (Kalium) dan efek Cl (Clhor) dalam pupuk KCl.</p>
<p>Kalium dibutuhkan dalam jumlah yang besar untuk pertumbuhan dan nutrisi tanaman tembakau dan kandungan yang relatif tinggi untuk tembakau agar kualitasnya baik (Jones, 1979). Kekurangan unsur K akan menunjukkan gejala daun menguning, ada noda-noda jaringan mati ditengah lembaran atau di sepanjang tepi daun, batang kurang kuat hingga mudah terpatahkan oleh angin.(Dwijosputro, 1994). Tanaman tembakau menyerap kalium lebih banyak dibanding unsur hara lain. Kualitas tembakau dapat terus ditingkatkan dengan meningkatkan dosis kalium di atas jumlah yang dibutuhkan untuk hasil maksimum. Kalium (K) biasanya diserap cepat pada permulaan dan sebaliknya penyerapan kalium (K) menurun dengan cepat pada akhir pertumbuhan (Tso, 1972). Kandungan kalium (K) lebih besar pada petikan awal, dan pada saat petikan akhir kandungan K sudah (Shinta Kusumawati 1994).Kadar kalium (K) dalam tembakau yaug berkualitas baik berkisar antara 3.0 hingga 3.3%.Bahkan kandungan K kebanyakan belum mencukupi persyaratan persentase K dalam daun tembakau yang berkualitas baik yaitu sekitar 3.0-3.3 % (Hawks dan Collins, 1983). Sehingga penambahan pupuk K sangat dibutuhkan dalam budidaya tanaman tembakau, padahal setiap penambahan unsur hara kalium pada umumya selalu menambahakan unsur Cl (Clhor), karena kebanyakan pupuk kalium yang ada dipasaran dan yang mudah didapat serta berharga murah mengandung clhor yang cukup tinggi, misal KCl dan ZK, pupuk yang tidak mengandung clhor biasanya berharga mahal, sedangkan unsur clhor (Cl) akan menurunkan kualitas daun tembakau berikut efek negatif dr Cl pada daun tembakau.Khlor dalam daun tembakau yang baik yaitu lebih kecil dari 1 % (Hawks dan Collins, 1983). Khlor dapat diserap hingga jumlahnya mencapai 10 % dalam tanaman,namun hal ini dapat menimbulkan gangguan pada tanaman. Bila kandungan Cl berkisar antara 4-5 % dalam daun, akan mengakibatkan terhambatnya metabolisme karbohidrat (Garner, 1951). Peranan Cl belum dapat dijelaskan dengan pasti, meski Cl berhubungandengan fotosintesis yang menghasilkan oksigen. Diduga unsur ini terlibat dalam sekurang-kurangnya sebuah enzim yang sifat kimianya belum diketahui(Loveless, ).  Kelebihan Cl menunjukkan gejala daun menjadi hijau tua, sangat tebal, tepi daun menekuk ke atas dan permukaan daun licin (McCants dan Woltz, 1967).Krosok menunjukkan gejala warna tidak rata dan kotor, sangat higroskopis, dalam pemeraman warna krosok akan menjadi semakin gelap dan muncul bau tidak enak. Selain itu kandungan Cl yang tinggi dalam daun dapat mengakibatkan penurunan mutu, dan aroma, serta semakin menurunkan daya bakar (Akehurst, 1981). Higrokospisitas daun meningkat dengan meningkatnya khlor dalam daun. Kadar Cl dalam tembakau yang baik adalah kurang dari 1 % (Hawks dan Collins, 1983). Klor cenderung menurun seiring dengan pertambahan usia tanaman. Jadi penambahan pupuk kalium (K) yang terjadi di masyarakat umum adalah seperti buah si malakama, sisi lain petani sangat membutuhkan kalium namun seiring dengan penambahan kalium (K) (misal penambahan pupuk KCl dan ZK) maka keberadaan unsur clhor yang pada dasarnya di butuhkan sangat sedikit semakin meningkat pula, kecuali bila yang digunakan adalah potasium nitrat (KNO3). Pupuk ini mengandung K20 sebesar 45 % dan 13% N dalam bentuk nitrat sehingga mudah diserap oleh tanaman walaupun nitrat mudah tercuci bila dibandingkandengan bentuk N dalam pupuk yang lain, misalnya ammonium. Keuntungan lain dalam penggunaan sumber N dalam bentuk nitrat adalah tidak mudah menguap dan nitrat tidak bersaing dengan kation K+ dan Mg2+ dalam absorbsi maupun translokasinya (Murdiyati, Buadi dan Rachman, 1993). Dan pupuk ini tidak mengandung clhor (Cl), salah satu kelemahan pupuk ini adalah mudah tercuci dan berharga mahal.  Dan perlu diingat lagi perilaku petani saat menanam sebelum tanaman tembakau bila terlalu menggunakan pupuk KCL ataupun ZK yang tinggi maka Clor (Cl) yang tersisa masih sangat berpengaruh terhadap tanaman tembakau yang di tanam setelahnya. Berikut Kandungan Unsur Kimia dalam Daun Tengah Tembakau Virginia yang Berkualitas Baik. (Hawks dan Collins, 1983).</p>
<table style="height:171px;" border="1" cellspacing="0" cellpadding="0" width="367">
<tbody>
<tr style="text-align:center;">
<td width="144" valign="top">Unsur</td>
<td width="300" valign="top"><strong>Kisaran Jumlah Unsur dalam Daun (%)</strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="144" valign="top">Nitrogen  (N)</td>
<td width="300" valign="top">
<p style="text-align:center;">1.4-2.7</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="144" valign="top">Pospor (P)</td>
<td width="300" valign="top">
<p style="text-align:center;">0.2</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="144" valign="top">Kalium (K)</td>
<td width="300" valign="top">
<p style="text-align:center;">3.00-3.33</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="144" valign="top">Calsium (Ca)</td>
<td width="300" valign="top">
<p style="text-align:center;">1.5-2.0</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="144" valign="top">Magnesium (Mg)</td>
<td width="300" valign="top">
<p style="text-align:center;">0.86</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="144" valign="top">Clhore (Cl)</td>
<td width="300" valign="top">
<p style="text-align:center;">&lt;1</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="144" valign="top">Nikotin</td>
<td width="300" valign="top">
<p style="text-align:center;">1.5-3.5</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="144" valign="top">Kandungan Gula</td>
<td width="300" valign="top">
<p style="text-align:center;">8-18</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Daftar Pustaka:</p>
<p>AKEHURST, B. C. 1981. Tobacco. Longman. London.</p>
<p>A.R. Loveless. 1987. Prinsip-prinsip Biologi Tumbuhan untuk Daerah Tropik 1. Alih bahasa kuswata Kartawinata dkk. Jakarta: PT Gramedia.</p>
<p>Dwijosputo PROF. DR. 1994. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta 10270.</p>
<p>HAWKS, JR., s.N. and W.K. COLLINS. 1983. Principles of fluecured tobacco production. N.C. Univ.,</p>
<p>MCCANTS, C. B., and W. G. WOLTZ. 1967. Growth and mineral<br />
nutrition of tobacco. Adv. In Agron. 19</p>
<p>MUKANI, A. S. MURDIYATI, SUWARSO, dan A. RACHMAN.1992. Sigi produktivitas dan mutu tembakau virginiadi Kabupaten Bojonegoro. Penelitian KerjasamaBalittas-Disbun TK I Prop. Jatim.- PT PR Djarum.</p>
<p>RACHMAN, A., B. SAROSO, A. S. MURDIYATI, dan DJAYADI. 1986. Pengaruh pemupukan KCI pada padi terhadap kadar C1 krosok tembakau virginia yang ditanamsesudah padi. Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat.</p>
<table style="height:116px;" border="1" cellspacing="0" cellpadding="0" width="18">
<tbody>
<tr style="text-align:center;">
<td width="144" valign="top"></td>
<td width="300" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="144" valign="top"></td>
<td width="300" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="144" valign="top"></td>
<td width="300" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="144" valign="top"></td>
<td width="300" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="144" valign="top"></td>
<td width="300" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="144" valign="top"></td>
<td width="300" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="144" valign="top"></td>
<td width="300" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="144" valign="top"></td>
<td width="300" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="144" valign="top"></td>
<td width="300" valign="top"></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tohariyusuf.wordpress.com/368/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tohariyusuf.wordpress.com/368/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tohariyusuf.wordpress.com/368/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tohariyusuf.wordpress.com/368/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tohariyusuf.wordpress.com/368/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tohariyusuf.wordpress.com/368/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tohariyusuf.wordpress.com/368/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tohariyusuf.wordpress.com/368/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tohariyusuf.wordpress.com/368/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tohariyusuf.wordpress.com/368/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tohariyusuf.wordpress.com/368/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tohariyusuf.wordpress.com/368/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tohariyusuf.wordpress.com/368/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tohariyusuf.wordpress.com/368/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tohariyusuf.wordpress.com&amp;blog=3257335&amp;post=368&amp;subd=tohariyusuf&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tohariyusuf.wordpress.com/2010/09/21/pengaruh-kalium-dan-clhor-terhadap-hasiltembakau/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>35</slash:comments>
		<georss:point>-8.201022 111.973777</georss:point>
		<geo:lat>-8.201022</geo:lat>
		<geo:long>111.973777</geo:long>
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/85b6f615e8bd7ec86ab5254a97e6c138?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">TOHARI YUSUF</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Agens Hayati untuk Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman</title>
		<link>http://tohariyusuf.wordpress.com/2010/03/30/agens-hayati-untuk-pengendalian-organisme-pengganggu-tanaman/</link>
		<comments>http://tohariyusuf.wordpress.com/2010/03/30/agens-hayati-untuk-pengendalian-organisme-pengganggu-tanaman/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Mar 2010 11:53:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>TOHARI YUSUF</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hama]]></category>
		<category><![CDATA[Penyakit Tanaman]]></category>
		<category><![CDATA[Agens Hayati]]></category>
		<category><![CDATA[Beauveria bassiana]]></category>
		<category><![CDATA[Gliocladium spp.]]></category>
		<category><![CDATA[metarhizium anisopliae]]></category>
		<category><![CDATA[Nuclear polyhidrosis Virus]]></category>
		<category><![CDATA[SlNPV]]></category>
		<category><![CDATA[spodotera litura]]></category>
		<category><![CDATA[Trichoderma spp.]]></category>
		<category><![CDATA[Trichogrammatoidea bactrae-bactrae]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tohariyusuf.wordpress.com/?p=286</guid>
		<description><![CDATA[Sebenarnya saya belum pernah berhasil menggunakan Agens Hayati untuk tanaman hortikultura, entah karena saya yang tidak bisa alias bodoh, ataukah saya yang kurang sabar, namun tidak ada salahnya saya memposting tentang agens hayati, siapa tahu dari sekian pembaca ada yang mencoba dan berhasil. Dan apabila anda salah satu yang berhasil mohon saya dikasih tahu lewat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tohariyusuf.wordpress.com&amp;blog=3257335&amp;post=286&amp;subd=tohariyusuf&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebenarnya saya belum pernah berhasil menggunakan Agens Hayati untuk tanaman hortikultura, entah karena saya yang tidak bisa alias bodoh, ataukah saya yang kurang sabar, namun tidak ada salahnya saya memposting tentang agens hayati, siapa tahu dari sekian pembaca ada yang mencoba dan berhasil. Dan apabila anda salah satu yang berhasil mohon saya dikasih tahu lewat e-mail saya ( tohariyusuf@gmail.com ), saya akan belajar kepada anda. Dan karena pengetahuan dan pengalaman saya tentang agens hayati sangat sedikit saya<strong> mohon maaf bila ada koment atau pertanyaan yang tidak mampu saya jawab atau jelaskan</strong>. Artikel yang saya tulis ini bukanlah saya yang membuat melainkan saya hanya menulis dan menyebarluaskan informasi yang saya dapatkan dari Balai Proteksi tanaman pangan dan Hortikultura. Berikut artikel yang saya dapatkan dari Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH) VI Jawa Timur (<span style="color:#008000;">tulisan yang berwarna hijau adalah dari BPTPH</span> <span style="color:#0000ff;">sedangkan yang biru adalah tambahan dari saya</span>):</p>
<p><span style="color:#008000;">Agen Pengenali Hayati yaitu semua organisme yang dalam tahap perkembangannya dapat dipergunakan untuk keperluan pengendalian hama dan penyaki, sementara Pengendalian Hayati adalah pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT) oleh musuh alami (Agens pengendali hayati). Keuntungan dari pengendalian secara hayati yaitu selektifitas tinggi, hama tidak menjadi resisten atau kalau hal itu terjadi sangat lambat, serta tidak ada pengruh samping yang buruk seperti pada penggunaan pestisida. Dan beberapa kelemahan pengendalian hayati yaitu pegendalian berjalan lambat, tidak dapat diramalkan, dan memrlukan pengawasan yang ketat. </span><span style="color:#0000ff;">Saat kita menggunakan agen hayati di lahan, kita harus berfikir bahwa kita menggunakan mahluk hidup dalam pengendalian hama penyakit / OPT, sehingga sebaiknya kita tidak menggunakan pestisida kimia karena hal itu akan membunuh agens hayati yang nota bene-nya adalah mahluk hidup, sebaliknya kita harus mengusakan hal-hal yang bisa mendukung perkembangbiakan agens hayati tersebut.</span></p>
<p><span style="color:#0000ff;"><span style="color:#008000;">Beberapa jenis agens hayati yang dikembangkan di laboratorium-laboratorium di wilayah  BPTPH Jatim yaitu:</span></span></p>
<p><span style="color:#0000ff;"><span style="color:#008000;"><strong><span style="text-decoration:underline;">PARASITOID</span> Telur</strong> <em>Trichogrammatoidea bactrae-bactrae </em>untuk pengendalian hama penggerek polong<em> Etiella zinkcinella.</em></span></span></p>
<p><span style="color:#0000ff;"><span style="color:#008000;">Perbanyakan masal:</span></span></p>
<ul>
<li><span style="color:#0000ff;"><span style="color:#008000;">Digunakan inang pengganti, yaitu berupa telur <em>Corcyra cephalonica </em>yang sudah di mandulkan.</span></span></li>
<li><span style="color:#0000ff;"><span style="color:#008000;">Telur-telur ini kemudian diletakkan pada pias-pias yang selanjutnya ditulasrkan dengan telur-telur yang berisi parasitoid <em>T. bactre-bactrae</em></span></span></li>
<li><span style="color:#0000ff;"><span style="color:#008000;">Telur yang tel;ah terparasit akan berwarna hitam da telah siap untuk dilepas di lahan.</span></span></li>
</ul>
<p><span style="color:#0000ff;"><span style="color:#008000;">Pelepasan</span></span></p>
<ul>
<li><span style="color:#0000ff;"><span style="color:#008000;">Dosis pelepasan: 100 pias/ha,di lepas 8 tahap dengan interval 1 minggu. pelepasan pertama 16 pias/ha, pelepasan berikutnya 12 pias/ha/minggu. jarak pelepasan antar pias 25-30 m, dan dilakukan secara merata.</span></span></li>
<li><span style="color:#0000ff;"><span style="color:#008000;">Waktu pelepasan di pagi hari atau sore hari, satu harimenjelang imago T. bactrae-bactrae keluar dari inang yang terparasi (siklus T. bactre-bactrae dari telur diletakkan hingga munculnya imago sekitar 8 hari). Upayakan pelepasan parasitoid sejalan dengan awal periode peletakan telur hama sasaran.</span></span></li>
<li><span style="color:#0000ff;"><span style="color:#008000;">Cara pemaangan yaitu dengan menyelipkan pias pada ketiak daun pucuk dengan bagian telur menghadap keatas. apabila diperkirakan akan turun hujan, pias dipasang secara tertelungkup. Selain itu, pemasangan pias dapat pula dilakukan dengan mengguanakan sutas tali yang teleh diolesi dengan lem/perekat untuk menghindari dari pemangsaan predator.</span></span></li>
</ul>
<p><span style="color:#0000ff;"><span style="color:#008000;"><span style="text-decoration:underline;"><strong>PATOGEN</strong></span></span></span></p>
<p><span style="color:#0000ff;"><span style="color:#008000;"><strong>Cendawan <em>Beauveria bassiana</em> </strong>dan <strong><em>metarhizium anisopliae</em></strong> untuk penegendalian wereng batang coklat, walang sangit dll.</span></span></p>
<p><span style="color:#0000ff;"><span style="color:#008000;">Koloni cendawan B. bassiana berwarna putih seperti kapur sedangkan M. anisopliae berwarna hijau tua.</span></span></p>
<p><span style="color:#0000ff;"><span style="color:#008000;">Perbanyakan masal</span></span></p>
<ul>
<li><span style="color:#0000ff;"><span style="color:#008000;"> cendawan patogen ditumbuhkan di media padat dari jagung, beras atau campuran jagung/beras dengan dedak yang telah di sterilkan.</span></span></li>
<li><span style="color:#0000ff;"><span style="color:#008000;">Miselium cendawan akan memenuhi kantung media padat ukuran 100 gr dalam waktu 3-4 minggu.</span></span></li>
</ul>
<p><span style="color:#0000ff;"><span style="color:#008000;">Aplikasi</span></span></p>
<ul>
<li><span style="color:#0000ff;"><span style="color:#008000;">Dosis: Jumalah spora cendawan yang efektif untuk aplikasidilapangan ialah 10 pngkat 6 spora/ml larutan, atau 10 pangkat 6 spora/g media padat.</span></span></li>
<li><span style="color:#0000ff;"><span style="color:#008000;">Kebutuhan media padat untuk 1 tanki ukuran 14  lt   yaitu 100 gr/tanki atau 3 kg media padat/ha.</span></span></li>
<li><span style="color:#0000ff;"><span style="color:#008000;">Waktu aplikasi pagi atau sore hari</span></span></li>
</ul>
<p><strong><span style="color:#0000ff;"><span style="color:#008000;">Cendawan Antagonis <em>Trichoderma spp. </em>dan<em> Gliocladium spp.<br />
</em></span></span></strong></p>
<p><span style="color:#0000ff;"><span style="color:#008000;">Untuk mengedalikan penyakit tanaman yang disebabkan oleh cendawan <em>fusarium spp</em></span></span><strong><span style="color:#0000ff;"><span style="color:#008000;"><em><br />
. </em></span></span></strong><span style="color:#0000ff;"><span style="color:#008000;"><em>phytophtoraspp.</em> atau<em> Rhizoctonia spp. </em>Mekanisme antagonis</span></span><strong><span style="color:#0000ff;"><span style="color:#008000;"><em> </em></span></span></strong><span style="color:#0000ff;"><span style="color:#008000;"><em>Trichoderma spp. </em>dan<em> Gliocladium spp. terhadap Fusarium spp. </em>adalah menghambat sedangkan pada cendawan tanah yang lainnya adalah mematikan. Koloni cendawan trichoderma spp. berwarna hijau tua sedangkan gliocladium spp berwaarna hijau muda. Pemanfaatan cendawan ini akan lebih efektif bila dilakukan di persemaian  (merupakan tidakan pecegahan)</span></span></p>
<p><span style="color:#0000ff;"><span style="color:#008000;">Perbanyakan Masal</span></span></p>
<ul>
<li><span style="color:#0000ff;"><span style="color:#008000;">Untuk starter (biakan induk) cendawan antagonis ditumbuhkan pada media padat jagung atau serbuk gergaji kayu</span></span></li>
<li><span style="color:#0000ff;"><span style="color:#008000;">Perbanyakan masal cendawan ini digunakan dalam bentuk kompos.</span></span></li>
<li><span style="color:#0000ff;"><span style="color:#008000;">kompos trichoderma/gliocladium terdiri dari: 1meter  kubik Jerami/serbuk gergaji; 250 gr urea; Superphos (<span style="text-decoration:line-through;">SP36</span>) 500 gr;  Kapur pertanian 300 gr, Pupuk kandang 50 gr dan biakan induk trichoderma/gliocladim 300 gr.</span></span></li>
<li><span style="color:#0000ff;"><span style="color:#008000;">Campuran bahan-bahan ini ditumpuk menjadi menjadi 4 lapisan, kemudian dikomposkan selama 20 hari dan pembalikan dilakukan pada hari ke 12.</span></span></li>
</ul>
<p><span style="color:#0000ff;"><span style="color:#008000;">Aplikasi</span></span></p>
<p><span style="color:#0000ff;"><span style="color:#008000;">Dosis: 5 gr kompospertanaman tomat atau cabai/ semangka dll. atau 100 gr kompos per runpin pisang,dan diberikan pada pagi hari atau sore hari.</span></span></p>
<p><span style="color:#0000ff;"><span style="color:#008000;"><strong>Nuclear Polyhidrosis Virus (NPV)</strong></span></span></p>
<p><span style="color:#0000ff;"><span style="color:#008000;"><strong>Sl-NPV</strong> (Spodoptera litura-Nuclear polyhidrosis Virus) adalah virus yang digunakan untuk membasmi ulat grayak (<em>spodotera litura</em>) yang ada pada tomat, cabai,kedelai bawang, merah dll)</span></span></p>
<p><span style="color:#0000ff;"><span style="color:#008000;">Perbanyakan Masal</span></span></p>
<ul>
<li><span style="color:#0000ff;"><span style="color:#008000;">Pemeliharaan inang berupa S. litura.</span></span></li>
<li><span style="color:#0000ff;"><span style="color:#008000;">Pakan ulat grayak (instar 3 atau 4) diolesi dengan suspensi SlNPV (cukup satukali perlakuan), suspensi ini dibuat dengan cara melumat seekor ulat instar 4 yang mati terinfeksi SlNPV dengan 10 ml (2 sendok makan) air. Ulat selanjutnya dipelihara sampai mati. (pemberian pakan yang diolesi suspensi SlNPV hanya 1 kali selanjutnya diberi makanan biasa tanpa diolesi SlNPV).</span></span></li>
</ul>
<p><span style="color:#0000ff;"><span style="color:#008000;">Kematian pada ulat yang mati karena SlNPV biasanya terjadi pada hari ke 6-10 setelah pemberian pakan + SlNPV) dengan gejala kematian:</span></span></p>
<ol>
<li><span style="color:#0000ff;"><span style="color:#008000;">Terjadi perubahan warna tubuh, badan menjadi lebih besar dan mengkilap.</span></span></li>
<li><span style="color:#0000ff;"><span style="color:#008000;">Umenggantung dengan kaki palsu belakang.</span></span></li>
<li><span style="color:#0000ff;"><span style="color:#008000;">Tubuh menjadi lunak bila tersentuh akan keluar cairan seperti nanah.</span></span></li>
</ol>
<p><span style="color:#0000ff;"><span style="color:#008000;">Ulat-ulat yang mati karena SlNPV ini kemudian dilumatkan dan ditaambah air dan disaring, dan cairan ini siap diaplikasikan di lapangan. dan cairan ini bisa disimpan di dalam freezer sampai lima tahun, atau diawetkan dalam bentuk padat yaitu dengan mencampur suspensi  dengan talk atau/kaolin.</span></span></p>
<p><span style="color:#0000ff;"><span style="color:#008000;">Aplikasi</span></span></p>
<p><span style="color:#0000ff;"><span style="color:#008000;">Aplikasi dilakukan pada senja hari dengan dosis aplikasi dilapangan diperlukan suspensi  sediaan dengan konsentrasi 1.2 X 10 pangkat 8 PIBs/ml sebanyak 500 l/h atau setara dengan 1500 ekor ulat instar 4 yang mati terinveksi SlNPV dengan volume semprot 500 l/ha.</span></span></p>
<p><span style="color:#0000ff;"><span style="color:#008000;">Frekwensi aplikasi (penyemprotan) sebaiknya dilakukan per 4 minggu sekali, tetapi untuk serangan yang berulang sebaiknya dilakukan 1-2 minggu sekali, dengan penyermprotan dilakukan pada pernukaan bawah daun.</span></span></p>
<p><span style="color:#0000ff;"><span style="color:#008000;"><span style="color:#0000ff;">Dan ulat yang mati dilahan akibat aplikasi (penyemprotan) ini juga bisa menularkan SlNPV kepada ulat yang lain, bisa juga ulat yang mati ini diambil dan dilumat dan dicampur dengan air dan disemprotkan lagi. diusahakan ulat yang kita ambil adalah ulat <strong>instar 4,</strong> karena instar yang paling kuat dan merusak adalah instar ke 3 dan 4 dan diharapkan  dengan instar ke 4 mati berarti mampu membunuh instar di bawahnya karena instar 1-3 merupakan instar yang rentan terhadap SlNPV.</span></span></span></p>
<p><span style="color:#0000ff;">Ciri ulat grayak pada masing-masing instar yaitu instar </span></p>
<ul>
<li><span style="color:#0000ff;"> Instar pertama tubuh larva berwarna hijau kuning agak transparan, panjang 2,00 sampai 2,74 mm dan tubuh berbulu-bulu halus, kepala berwarna hitam dengan lebar 0,2-0,3 mm.<br />
</span></li>
<li><span style="color:#0000ff;">Instar kedua, tubuh berwarna hijau dengan panjang 3,75-10,00 mm, bulu-bulunya tidak terlihat lagi dan pada ruas abdomen (perut) pertama terdapat garis hitam meningkat pada bagian dorsal (punggung) terdapat garis putih memanjang dari toraks (dada) hingga ujung abdomen, pada toraks terdapat empat buah titik yang berbaris dua-dua.<br />
</span></li>
<li><span style="color:#0000ff;">Instar ketiga memiliki panjang tubuh 8,0 – 15,0 mm dengan lebar kepala 0,5 – 0,6 mm. Pada bagian kiri dan kanan abdomen (perut) terdapat garis zig-zag berwarna putih dan bulatan hitam sepanjang tubuh.<br />
</span></li>
<li><span style="color:#0000ff;">Instar keempat , kelima dan keenam agak sulit dibedakan. Untuk panjang tubuh instar ke empat 13-20 mm, instar kelima 25-35 mm dan instar ke enam 35-50 mm. Mulai instar keempat warna bervariasi yaitu hitam, hijau, keputihan, hijau kekuningan atau hijau keunguan. Namun biasanya untuk instar kelima dan keenam (terutama yang ke enam)biasanya ulat cenderung pendiam dan tidak banyak gerak bahkan tidak berpindah tempat. (Ardiansyah, 2007)</span></li>
</ul>
<p><span style="color:#0000ff;"><span style="color:#008000;"><span style="color:#0000ff;">Dalam pengaplikasian agens hayati ini sebaiknya dilakukan pada pagi hari atau pada sore hari, ini dianjurkan karena agens hayati ini adalah mahluk hidup yang lemah dan kemugkinan akan mati bila terkena sinar matahari langsung sebelum beradaptasi secara baik dengan inangnya. </span></span></span></p>
<p><span style="color:#0000ff;"><span style="color:#008000;"><span style="color:#0000ff;">Dan diharapkan apabila agens hayati ini bisa terus berkembang saat pengaplikasian dilahan maka agens hayati tersebut bisa menjaga tanaman yang kita budidayakan dengan menciptakan suasana yang kondusif untuk agens hayati tersebut dan menghilangkan/meminimalisir faktor yang bisa meracuni kehidupan agens tersebut semisal pengaplikasian pestisida.<br />
</span></span></span></p>
<p><span style="color:#0000ff;"><span style="color:#008000;"><span style="color:#0000ff;"><br />
</span></span></span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tohariyusuf.wordpress.com/286/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tohariyusuf.wordpress.com/286/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tohariyusuf.wordpress.com/286/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tohariyusuf.wordpress.com/286/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tohariyusuf.wordpress.com/286/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tohariyusuf.wordpress.com/286/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tohariyusuf.wordpress.com/286/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tohariyusuf.wordpress.com/286/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tohariyusuf.wordpress.com/286/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tohariyusuf.wordpress.com/286/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tohariyusuf.wordpress.com/286/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tohariyusuf.wordpress.com/286/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tohariyusuf.wordpress.com/286/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tohariyusuf.wordpress.com/286/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tohariyusuf.wordpress.com&amp;blog=3257335&amp;post=286&amp;subd=tohariyusuf&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tohariyusuf.wordpress.com/2010/03/30/agens-hayati-untuk-pengendalian-organisme-pengganggu-tanaman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>40</slash:comments>
		<georss:point>-8.201022 111.973777</georss:point>
		<geo:lat>-8.201022</geo:lat>
		<geo:long>111.973777</geo:long>
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/85b6f615e8bd7ec86ab5254a97e6c138?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">TOHARI YUSUF</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Cara Perbanyakan Masal P. bactrae-bactarae</title>
		<link>http://tohariyusuf.wordpress.com/2010/03/19/cara-perbanyakan-masal-p-bactrae-bactarae/</link>
		<comments>http://tohariyusuf.wordpress.com/2010/03/19/cara-perbanyakan-masal-p-bactrae-bactarae/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Mar 2010 12:20:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>TOHARI YUSUF</dc:creator>
				<category><![CDATA[1]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tohariyusuf.wordpress.com/?p=291</guid>
		<description><![CDATA[Cara Perbanyakan masal P. bactrae-bactraeklik disisni<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tohariyusuf.wordpress.com&amp;blog=3257335&amp;post=291&amp;subd=tohariyusuf&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://tohariyusuf.files.wordpress.com/2010/03/marwoto-23-03-2004.pdf">Cara Perbanyakan masal<em> P. bactrae-bactrae</em>klik disisni</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tohariyusuf.wordpress.com/291/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tohariyusuf.wordpress.com/291/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tohariyusuf.wordpress.com/291/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tohariyusuf.wordpress.com/291/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tohariyusuf.wordpress.com/291/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tohariyusuf.wordpress.com/291/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tohariyusuf.wordpress.com/291/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tohariyusuf.wordpress.com/291/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tohariyusuf.wordpress.com/291/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tohariyusuf.wordpress.com/291/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tohariyusuf.wordpress.com/291/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tohariyusuf.wordpress.com/291/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tohariyusuf.wordpress.com/291/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tohariyusuf.wordpress.com/291/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tohariyusuf.wordpress.com&amp;blog=3257335&amp;post=291&amp;subd=tohariyusuf&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tohariyusuf.wordpress.com/2010/03/19/cara-perbanyakan-masal-p-bactrae-bactarae/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>28</slash:comments>
		<georss:point>-8.201022 111.973777</georss:point>
		<geo:lat>-8.201022</geo:lat>
		<geo:long>111.973777</geo:long>
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/85b6f615e8bd7ec86ab5254a97e6c138?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">TOHARI YUSUF</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jangan Biarkan Rontokan Buah Berserakan di Lahan Anda</title>
		<link>http://tohariyusuf.wordpress.com/2010/03/10/jangan-biarkan-rontokan-buah-berserakan-di-lahan-anda/</link>
		<comments>http://tohariyusuf.wordpress.com/2010/03/10/jangan-biarkan-rontokan-buah-berserakan-di-lahan-anda/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Mar 2010 06:25:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>TOHARI YUSUF</dc:creator>
				<category><![CDATA[1]]></category>
		<category><![CDATA[Buah rontok]]></category>
		<category><![CDATA[kerontokan buah]]></category>
		<category><![CDATA[lalat buah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tohariyusuf.wordpress.com/?p=280</guid>
		<description><![CDATA[Jika kita menanam, jangan biarkan rotokan buah berserakan dilahan anda, baik itu tanaman hortikultura ataupun tanaman buah di perkebunan/perumahan, dan jangan katakan kerontokan itu wajar, sebab buah yang rontok adalah buah yang bermasalah misal: Kekurangan unsur hara yang dibutuhkan buah Terserang hama Terserang penyakit Kita harus mewaspadai kerontokan-kerontokan buah tersebut, jika buah tersebut terkena hama [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tohariyusuf.wordpress.com&amp;blog=3257335&amp;post=280&amp;subd=tohariyusuf&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color:#008000;">Jika kita menanam, jangan biarkan rotokan buah berserakan dilahan anda, baik itu tanaman hortikultura ataupun tanaman buah di perkebunan/perumahan, dan jangan katakan kerontokan itu wajar, sebab buah yang rontok adalah buah yang bermasalah misal:</span></p>
<ul>
<li><span style="color:#008000;">Kekurangan unsur hara yang dibutuhkan buah</span></li>
<li><span style="color:#008000;">Terserang hama</span></li>
<li><span style="color:#008000;">Terserang penyakit</span></li>
</ul>
<p><span style="color:#008000;">Kita harus mewaspadai kerontokan-kerontokan buah tersebut, jika buah tersebut terkena hama lalat buah (misal pada cabai, melon, belimbing, mangga dsb) maka buah tersebut menjadi sarana untuk bertelur dan berkembang biak larva dari lalat buah (<span style="color:#ff0000;">coba bayangin kalau satu ekor lalat buah betina menghasilkan 100-150 ekor telur/larva dan telur/larva tersebut berada dalam buah yang berserakan&#8230;.dan kemudian dia bertelur, bertelur, lagi dan lage hehehe&#8230; berabe kan&#8230;?</span>), dan jika buah tersebut terkana jamur misal antraknosa, pythoptora dsb maka buah tersebut menjadi perkembangan jamur yang siap menyebarkan sporanya dikala jamur tersebut sudah dewasa, sehingga dapat dipastikan hama penyakit semakin merajalela dan kerontokan buahpun semakin menjadi-jadi. Maka dari itu jangan anggap remeh buah yang rontok, dan jangan anggap kerontokan buah tersebut adalah sebuah kewajaran, kita harus mmbersihkan buah yang rontok dari lahan kita, dan membuang sejauh mungkin dari lahan kita, atau kita juga bisa mengubur dalam-dalam dan rapat-rapat, dan jalan yang paling mudah dan cepat (<span style="color:#ff0000;"> tapi jangan dilakukan, sebab ini sangat dilarang dunia internasional hehe&#8230;&#8230; (; </span>) yaitu di hanyutkan di sungai.</span></p>
<p><span style="color:#008000;">Luangkan waktu tersendiri dalam pemungutan buah yang rontok sekaligus memetik buah yang masih di pohan dan terindikasi akan rontok atau terkena penyakit, jangan sentuh tanaman/buah yang masih sehat sebab bila buah yang anda petik akibat seerangan jamur maka tangan anda akan membawa spora dan merupakan media untuk penularan jamur. Setelah selesai pemungutan cuci peralatan ( misal ember, timba, karung, sarung tangan, pakaian dll) yang terkena/bersinggungan langsung dengan buah yang rontok tersebut kalau bisa cucilah dengan larutan alkohol, atau paling tidak dengan sabun cuci.</span></p>
<p><span style="color:#008000;">Selain perlakuan pembersihan lakukan juga penanganan langsung terhadap hama penyakit tersebut menggunakan pestisida yang tepat sasaran, tepat dosis, dan tepat waktu.<br />
</span></p>
<p><span style="color:#008000;">Tulisan saya diatas adalah sangat remeh dan sederhana, namun kita jarang menyadari  bahwa hal tersebut penting kita lakukan. Marilah kita mulai dari hal yang sederhana, kecil, dan remeh, semoga besar manfaatnya untuk tanaman yang kita budidayakan.</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tohariyusuf.wordpress.com/280/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tohariyusuf.wordpress.com/280/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tohariyusuf.wordpress.com/280/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tohariyusuf.wordpress.com/280/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tohariyusuf.wordpress.com/280/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tohariyusuf.wordpress.com/280/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tohariyusuf.wordpress.com/280/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tohariyusuf.wordpress.com/280/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tohariyusuf.wordpress.com/280/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tohariyusuf.wordpress.com/280/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tohariyusuf.wordpress.com/280/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tohariyusuf.wordpress.com/280/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tohariyusuf.wordpress.com/280/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tohariyusuf.wordpress.com/280/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tohariyusuf.wordpress.com&amp;blog=3257335&amp;post=280&amp;subd=tohariyusuf&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tohariyusuf.wordpress.com/2010/03/10/jangan-biarkan-rontokan-buah-berserakan-di-lahan-anda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>30</slash:comments>
		<georss:point>-8.201022 111.973777</georss:point>
		<geo:lat>-8.201022</geo:lat>
		<geo:long>111.973777</geo:long>
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/85b6f615e8bd7ec86ab5254a97e6c138?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">TOHARI YUSUF</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hama Tikus dan Pengendaliannya</title>
		<link>http://tohariyusuf.wordpress.com/2010/03/02/hama-tikus-dan-pengendaliannya/</link>
		<comments>http://tohariyusuf.wordpress.com/2010/03/02/hama-tikus-dan-pengendaliannya/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Mar 2010 16:23:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>TOHARI YUSUF</dc:creator>
				<category><![CDATA[1]]></category>
		<category><![CDATA[klasifikasi tikus]]></category>
		<category><![CDATA[morfologi tikus]]></category>
		<category><![CDATA[pemberantasan tikus]]></category>
		<category><![CDATA[Pengendalian tikus]]></category>
		<category><![CDATA[Tikus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tohariyusuf.wordpress.com/?p=274</guid>
		<description><![CDATA[Kalau membaca judul diatas anda tentunya jemu bila saya membahas dulu tentang morfologi tikus dulu, namun saya harap terus membaca artikel ini, karena akan terbengong-bengong dan takjub bila anda mengenal lebih baik dengan si tikus ini, dan bahkan mungkin juga anda akan jatuh hati dan mengkategorikan tikus menjadi golongan hewan pintar dan mungkin  tidak layak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tohariyusuf.wordpress.com&amp;blog=3257335&amp;post=274&amp;subd=tohariyusuf&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:left;">Kalau membaca judul diatas anda tentunya jemu bila saya membahas dulu tentang morfologi tikus dulu, namun saya harap terus membaca artikel ini, karena akan terbengong-bengong dan takjub bila anda mengenal lebih baik dengan si tikus ini, dan bahkan mungkin juga anda akan jatuh hati dan mengkategorikan tikus menjadi golongan hewan pintar dan mungkin  <span style="text-decoration:line-through;">tidak</span> layak dipelihara ha&#8230;ha&#8230;</p>
<p style="text-align:left;"><strong>Klasifikasi Tikus</strong></p>
<ul style="text-align:left;">
<li>Sub filum       : Vertebrata (bertulang belakang)</li>
<li>Klas                : Mamalia (menyusui)</li>
<li>Ordo               : Rodentia (mengerat)</li>
<li>Family            : Murideae</li>
<li>Species          : <em>rattus sp.</em></li>
</ul>
<p style="text-align:left;"><strong>Jenis Hama Tikus</strong></p>
<ul style="text-align:left;">
<li>Tikus sawah   : <em>Rattus argentiventer</em></li>
<li>Tikus semak<em> </em> :<em> Rattus tiominicus</em></li>
<li>Tikus rumah  <em> </em>:<em> Rattus rattus</em></li>
<li>Tikus ladang  : <em>Rattus exulans</em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;" lang="IN"> </span></li>
</ul>
<p style="text-align:left;"><strong>Makanan</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;text-indent:21.3pt;">Tikus merupakan hewan yang mempunyai preferensi makanan yang banyak, baik yang berasal dari tumbuhan maupun dari hewan. Walaupun demikian biji-bijian seperti gabah, beras dan jagung tampaknya lebih disukai daripada yang lain. Seekor tikus dapat merusak 283 bibit padi per hariatau 103 batang padi bunting per hari. Setelah itu, tikus juga menyukai umbi-umbian serperti ubi jalar dan ubi kayu.Makanan yang berasal dari hewan terutama adalah serangga dan hewan-hewan kecil lainnya. Makanan dari hewan ini merupakan sumber untuk pertumbuhan dan untuk memperbaiki bagian-bagian tubuh yang rusak, sedangkan makanan yang berasal dari tumbuhan dimanfaatkan sebagai sumber tenaga.Hasil penelitian di laboratorium menunjukkan bahwa kebutuhan makanan seekor tikus setiap hari kira-kira 10% dari bobot tubuhnya, tergantung dari kandungan air dan gizi dalam makanannya.Tikus merupakan hewan yang aktif pada maam hari sehingga sebagian besar aktivitas makannya dilakukan pada malam hari.Tikus memiliki sifat “neo-fobia”, yaitu takut atau mudah curiga terhadap benda-benda yang baru ditemuinya. Dengan adanya sifat tikus yang demikian, maka makanan akan dimakan adalah makanan yang sudah biasa ditemui. Dia akan mencicipi dulu makanan yang baru ditemuinya. Hal ini dapat mempengaruhi keberhasilan pengendalian secara kimia dengan menggunakan umpan beracun, sehingga harus diusahakan agar umpan yang digunakan adalah umpan yang disukai oleh tikus dan tempat umpanyang digunakan adalah benda-benda alami yamg banyak terdapat di alam. Dan bila makanan yang dimakan tersebut membuat keracunan dengan cepat maka dia akan mengeluarkan suara kesakitan dan tanda bahaya kepada teman-temannya. maka dari itu untuk penggunaan pestida kimia sebaiknya digunakan pestisida yang membunuh secara perlahan, dimana tikus tersebut akan mati dalam beberapa hari, sehingga tikus tersebut tidak merasa kapok dan tidak akan tahu kalau makanan yang dimakannya ternyata beracun. Dalam mencari makanan, tikus selalu pergi dan kembali melalui jalan yang sama, sehingga lama-lama terbentuk jalan tikus. Hal ini disebabkan tikus akan merasa aman untuk melewati jalan yang sama, daripada setiap saat harus membuat jalan baru. Jalan yang sama dapat ditandai dengan gesekan benda-benda di sekitar jalan tersebut dengan misainya, dan juga karena adanya air seni yang dikeluarkan pada jalan tersebut yang dapat diciuminya.</p>
<p style="text-align:left;"><strong>Pengelihatan.</strong></p>
<p style="text-align:left;">Dilihat dari pengelihatannya menurut para ahli konon tikus ternyata  tikus mempunyai pengelihatan yang jelek, yaitu ternyata tikus adalah hewan yang buta warna, artinya ia hanya dapat melihat benda-benda berwarna hitam dan putih. Akan tetapi, tikus tampaknya tertarik pada warna-warna hijau, kuning dan hitam. Warna hijau dan kuning diduga merupakan warna daun dan malai tanaman padi yang merupakan makanan utamanya di lapang. Sedangkan warna hitam merupakan warna gelap yang terlihat pada malam hari. Kemampuan tikus dalam melihat benda-benda yang ada di depannya dapat mencapai 10 meter</p>
<p style="text-align:left;"><strong>Penciuman</strong></p>
<p style="text-align:left;">Organ penciuman tikus sangat baik, terutama untuk mencium bau makanannya. Tikus jantan dapat mencium bau tikus betina yang sedang birahi untuk dikawininya.Tikus betina dapat mencium bau anaknya yang keluar dari sarang berdasarkan air seni yang dikeluarkan oleh anaknya.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:2.85pt;text-align:left;text-indent:-2.85pt;"><strong>Indera Pendengaran</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:2.85pt;text-align:left;text-indent:-2.85pt;">Pendengaran tikus sangat baik. Tikus dapat mendengar suara-suara dengan frekuensi tinggi, yang tidak dapat didengar oleh manusia. Berdasarkan suara-suara yang dikeluarkan oleh tikus, dapat dibagi menjadi beberapa suara, yaitu :</p>
<ul style="text-align:left;">
<li>Suara-suara pada saat akan melakukan perkawinan</li>
<li>Suara-suara menandakan adanya bahaya</li>
<li>Suara-suara pada saat menemukan makanan</li>
<li>Suara-suara pada saat tikus mengalami kesakitan</li>
</ul>
<p style="text-align:left;"><strong>Sarang</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;">Sarang yang dibuat biasanya mempunyai lebih dari satu pintu, pintu utama untuk jalan keluar dan masuk setiap hari, pintu darurat yang digunakan dalam keadaan yang membahayakan, misalnya pada saat dikerjar oleh predator ataupun pada saat dilakukan gropyokan, dan pintu yang menuju ke sumber air sebagai minumnya. Pintu darurat ini disamarkan dengan cara ditutupi dengan daun-daunan.Selain itu, sarang tikus juga terdiri dari lorong yang berkelok-kelok; semakin banyak anggota keluarga tikus, semakin panjang lorong yang dib Sarang tikus juga dilengkapi dengan ruangan/kamar yang difungsikan untuk beranak dan kamar sebagai gudang tempat meyimpan bahan makanan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;"><strong>Perkembangbiakan</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;">Tikus berkembang biak dengan sangat cepat, tikus menjadi dewasa dalam arti dapat kawin mulai umur 3 bulan, masa bunting tikus betina sangat singkat, kira-kira 3 minggu. Jumlah anak yang dihasilkan setiap kelahiran berkisar antara 4 &#8211; 12 ekor (rata-rata 6 ekor) tergantung dari jenis dan keadaan makanan di lapangan. Dan setelah 2-3 hari setelah melahirkan tikus-tikus tersebut sudah siap kawin lagi <span style="color:#ff0000;">(coba bayangin kalo terjadi sama manusia&#8230;. pasti  <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </span>)</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;"><strong>Pengendalian</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;">pengendalian yang paling sering kita gunakan biasanya menggunakan metode gropyokan atau dengan memasang umpan, namun yang palig tepat dilakukan adalah pengendalian terpadu.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;">Kalu kita menggunakan umpan beracun ada  baiknya kita menggunakan umpan yang tidak langsung membunuh dengan cepat, gunakanlah rodentisida yang membunuh secara perlahan misal Klerat dan ratikus, karena seperti yang saya bicarakan diatas tikus bila makan makanan yang beracun cepat reaksi kematiannya, maka dia akan memberi sinyal suara kesakitan dan tanda bahaya kepada temannya , sehingga teman-temannya akan waspada terhadap makanan baru, dan tidak mau makan terhadap umpan yang kita berikan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;">Pemberian umpan tersebut sebaiknya jangan disentuh dengan tangan sebab indra penciuman tikus sangat tajam terhadap bau yang baru dan aneh termasuk bau manusia.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;">Lakukan pada saat paceklik pangan bagi tikus yaitu saat lahan bera (tidak ditanami) sampai pada saat menjelang produksi pangan (bila pada padi menjelang bunting).</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;">Sebaiknya dilakukan secara bersama-sama minimal dalam luasan lahan 5 Ha.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;"><span style="color:#808000;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Berikut cara -cara pengendalian terpadu yang saya copy-paste dari litbang deptan</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:21.3pt;"><span style="color:#808000;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;" lang="IN">Pada pengendalian terpadu ini ada tiga prinsip yang dapat diterapkan yaitu:</span></span></p>
<ul>
<li><span style="color:#808000;"><span style="font-size:10pt;font-family:Symbol;" lang="IN">·</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;" lang="IN">Menurunkan populasi tikus sampai pada tingkat yang tidak merugikan secara ekonomis,</span></span></li>
<li><span style="color:#808000;"><span style="font-size:10pt;font-family:Symbol;" lang="IN">·</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;" lang="IN">Melindungi tanaman atau bahan simpanan dari serangan tikus, </span></span></li>
<li><span style="color:#808000;"><span style="font-size:10pt;font-family:Symbol;" lang="IN">·</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;" lang="IN">Mengurangi ketersediaan makanan bagi tikus.</span></span></li>
<li><span style="color:#808000;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;" lang="IN">Untuk keberhasilan pengendalian terpadu ini diperlukan beberapa syarat, yaitu :</span></span></li>
<li><span style="color:#808000;"><span style="font-size:10pt;font-family:Symbol;" lang="IN">·</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;" lang="IN">Melakukan secara serentak pada areal yang luas (minimal 5 ha),</span></span></li>
<li><span style="color:#808000;"><span style="font-size:10pt;font-family:Symbol;" lang="IN">·</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;" lang="IN">Dilakukan secara berkesinambungan sampai populasi tikus berada dibawah ambang ekonomi,</span></span></li>
<li><span style="color:#808000;"><span style="font-size:10pt;font-family:Symbol;" lang="IN">·</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;" lang="IN">Diterapkan sistem pengamatan dini yaitu ‘cepat melihat cepat melapor</span></span></li>
<li><span style="color:#808000;"><span style="font-size:10pt;font-family:Symbol;" lang="IN">·</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;" lang="IN">Tepat metode, yaitu sederhana, praktis, dan sesuai dengan kondisi setempat,</span></span></li>
<li><span style="color:#808000;"><span style="font-size:10pt;font-family:Symbol;" lang="IN">·</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;" lang="IN">Tepat sarana, pada tiap kelompok tani minimal ada 50 alat emposan, 50 kg belerang dan 100 kg rodentisida siap pakai, dan</span></span></li>
<li><span style="color:#808000;"><span style="font-size:10pt;font-family:Symbol;" lang="IN">·</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;" lang="IN">Dilakukan dengan pengorganisasian yang rapi.</span></span></li>
<li><span style="color:#808000;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;" lang="IN">Metode-metode yang dapat diterapkan dalam pengendalian terpadu adalah kultur teknis, sanitasi, fisik-mekanis, biologis, dan kimiawi.</span></span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="color:#808000;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;" lang="IN">a. Pengendalian secara kultur teknis</span></strong></span></p>
<ul>
<li><span style="color:#808000;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;" lang="IN">Pengendalian secara kultur teknis pada dasarnya adalah memanfaatkan cara-cara bercocok tanam (agronomis) yang dapat menekan populasi tikus. Beberapa cara ini yang dapat diterapkan adalah:</span></span></li>
<li><span style="color:#808000;"><span style="font-size:10pt;font-family:Symbol;" lang="IN">·</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;" lang="IN">Melakukan pemberaan pada lahan, yaitu untuk beberapa saat lahan dibiarkan kosong dengan tujuan agar tikus tidak mendapatkan makanan di tempat tersebut dan pergi ke tempat lain.Apabila cara ini tidak dapat diterapkan, dapat dipergunakan cara berikutnya.</span></span></li>
<li><span style="color:#808000;"><span style="font-size:10pt;font-family:Symbol;" lang="IN">·</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;" lang="IN">Melakukan pergiliran tanman, dimana dalam satu tahun musim tanam diusahakan untuk tidak ditanami padi terus menerus, tetapi diselingi dengan palawija, sehingga untuk tiga kali musim tanam adalah padi-padi-palawija atau padi-palawija-padi.Hal ini dapat menghambat perkembangan populasi tikus yang lebih cocok hidup pada tanaman padi dibandingkan dengan palawija.</span></span></li>
<li><span style="color:#808000;"><span style="font-size:10pt;font-family:Symbol;" lang="IN">·</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;" lang="IN">Melakukan penanaman secara serempak pada areal yang cukup luas dengan varietas yang sama, sehingga panennya dapat serempak juga. Hal ini bertujuan untuk memutuskan rantai makanan tikus.</span></span></li>
<li><span style="color:#808000;"><span style="font-size:10pt;font-family:Symbol;" lang="IN">·</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;" lang="IN">Mengatur jarak tanam, dengan cara menghilangkan baris ke enam dan kelipatannya (12, 18, 24 dan seterusnya) sehingga pertaaman terdapat celah-celah kosong.Hal ini bertujuan untuk mengurangi serangan tikus karena pada umumnya tikus lebih suka menyerang pada bagian tengah pertanaman yang ralatif rapat atau tertutup.Untuk mengganti baris-baris tanaman yang hilang, dapat ditanam bagian pinggir dengan agak rapat. Tikus tidak mau menyerang bagian tepi karena hal ini dapat menjadikan pintu masuk ke sarang terbuka, sehingga mudah dilacak oleh musuh-musuhnya termasuk manusia.</span></span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="color:#808000;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;" lang="IN">b. Pengendalian dengan sanitasi</span></strong></span></p>
<ul>
<li><span style="color:#808000;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;" lang="IN">Dalam kegiatan pertanian, cara ini juga termasuk dalam cara kultur teknis, akan tetapi disini dipisahkan karena sanitasi merupakan satu cara tersendiri yang cukup efektif dalam menekan populasi tikus.Tujuan sanitasi pada dasarnya adalah menghilangkan daya dukung lingkungan bagi tikus, sehingga tikus akan mati atau melarikan diri.Sanitasi yang dapat diterapkan adalah membersihkan sisi tanaman yang masih ada di sekitar pertanaman yang mungkin dapat dijadikan sarang oleh tikus.Sanitasi juga dapat diterapkan untuk mengendalikan tikus yang hidup di gudang atau di dalam rumah dengan membersihkan tumpukan barang-barang yang mungkin akan dijadikan sarang tikus.</span></span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="color:#808000;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;" lang="IN">c. Pengendalian secara fisik-mekanis </span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:21.3pt;"><span style="color:#808000;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;" lang="IN">Pengendalian ini merupakan cara yang paling awal dalam menekan populasi tikus. Prinsip dasar pengendalian ini adalah menghalangi tikus masuk ke suatu areal pertanaman atau membunuh tikus secara langsung baik dengan tangan atau dengan bantuan alat-alat seperti perangkap, pemukul kayu dan senapan angin.Beberapa cara pengendalian secara fisik-mekanis yang dapat diterapkan adalah:</span></span></p>
<ul>
<li><span style="color:#808000;"><span style="font-size:10pt;font-family:Symbol;" lang="IN">·</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;" lang="IN">Membuat barirs atau penghalang mekanis dari bahan-bahan yang tahan terhadap gigitan tikus seperti seng, aluminium, kawat dan lain-lain.Kalau mungkin pada barier mekanis ini dapat juga dialiri arus listrik mulai dari tegangan rendah yang membuat kaget tikus sampai teganan tinggi yang langsung membunuh tikus.</span></span></li>
<li><span style="color:#808000;"><span style="font-size:10pt;font-family:Symbol;" lang="IN">·</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;" lang="IN">Memasang perangkap terutama pada jalan-jalan yang biasa dilalui oleh tikus.Hal in</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">i</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;" lang="IN"> lebih memungkinkan pada tanaman perkebunan daripada tanaman pangan.</span></span></li>
<li><span style="color:#808000;"><span style="font-size:10pt;font-family:Symbol;" lang="IN">·</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;" lang="IN">Mengadakan gropyokan dengan cara membongkar sarang tikus dan membunuh tikusnya secara langsung.Cara gropyokan ini dapat dibantu oleh anjing-anjing yang sudah terlatih yang dapat mendeteksi sarang afkir atau sarang yang masih ada tikus didalamnya.</span></span></li>
<li><span style="color:#808000;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;" lang="IN">Keuntungan yang didapat dari pengendalian secara fisik-mekanis dibandingkan dengan pengendalian secara kimia antara lain adalah petani merasa puas karena hasilnya jelas terlihat dan apabila populasi tikus di lapang tinggi, yang dapat dibunuh jumlahnya banyak.Namun demikian,cara pengendalian ini juga memiliki kelemahan yaitu populasi tikus dapat kembali meningkat cepat karena potensi tersedianya makanan di lapang, petani biasanya cepat merasa puas sehingga mereka malas untuk melakukan pengendalian dengan cara lain, cara gropyokan dapat merusak tanaman yang masih ada di lapang dan juga merusak galengan, dan cara ini memerlukan tenaga kerja dalam jumlah yang banyak. Hal ini akan menjadi mahal bila saat itu para petani sedang mengerjakan pekerjaan lain diluar bidang pertanian</span></span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:21.3pt;"><span style="color:#808000;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;" lang="IN">d. Pengendalian secara biologi</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:21.3pt;"><span style="color:#808000;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;" lang="IN">Prinsip pengendalian cara ini adalah menggunakan musuh alami tikus yang dapat membunuhnya.Secara umum musuh alami tikus dapat dibagi dua yaitu predator atau pemangsa yang dapat langsung memakan tikus, dan patogen atau penyebab penyakit yang dapat menimbulkan penyakit pada tikus sehingga dapat membunuh tikus secara tidak langsung. Patogen yang sudah diketahui dapat menimbulkanpenyakit pada tikus adalah bakteri <em><span style="font-family:Verdana;">Salmonella</span></em>, tetapi bakteri ini juga dapat menimbulkan penyakit pada manusia sehingga bila diaplikasikan dalam jumlah yang besar dikhawatirkan dapat membahayakan manusia.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:21.3pt;"><span style="color:#808000;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;" lang="IN">Predator atau pemangsa yang dapat menekan populasi tikus dibagi atas tiga golongan yaitu ular, burung buas, dan hewanmenyusui pemakan daging.Ular yang dapat memakan tikus adalah ular piton atau sanca (<em><span style="font-family:Verdana;">Pyton</span></em> sp.), ular tikus (<em><span style="font-family:Verdana;">Ptyas </span></em>sp.), dan ular kobra (<em><span style="font-family:Verdana;">Naja</span></em> sp.). Burung buas yang dapat memakan tikus adalah burung elang (<em><span style="font-family:Verdana;">Elanus</span></em> sp.), burung hantu (<em><span style="font-family:Verdana;">Bubo</span></em> sp. dan <em><span style="font-family:Verdana;">Tyto alba</span></em>) serta kowak maling (<em><span style="font-family:Verdana;">Nyctytorax </span></em>sp.). Sedangkan hewan menyusui pemakan daging yang dapat memakan tikus adalah musang (<em><span style="font-family:Verdana;">Viverra</span></em> sp.), garangan (<em><span style="font-family:Verdana;">Herpestes </span></em>sp.), kucing (<em><span style="font-family:Verdana;">Felis catus</span></em>), dan anjing (<em><span style="font-family:Verdana;">Canis Familiaris</span></em>).Kemampuan memangsa tikus dari ketiga golongan hewan ini sesuai dengan aktivitasnya yaitu dengan perbandingan ular satu ekor, burung buas sepuluh ekor, dan hewan menyusui empat ekor per satuan waktu. Burung mempunyai kemampuan memangsa yang paling tinggi dibandingkan dengan hewan menyusui dan ular karena laju metabolisme tubuh hewan ini yang paling tinggi.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="color:#808000;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;" lang="IN">e. Pengendalian secara kimia</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:21.3pt;"><span style="color:#808000;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;" lang="IN">Pada prinsipnya pengendalian ini menggunakan bahan-bahan kimia untuk membunuh atau mengganggu aktivitas tikus.Pengendalian secara kimia dapat dibagi menjadi empat bagian, ayitu fumigasi (asap beracaun), <em><span style="font-family:Verdana;">repellent </span></em>(bahan kimia pengusir tikus) dan <em><span style="font-family:Verdana;">attractant</span></em> (bahan kimia pengikat tikus), dan <em><span style="font-family:Verdana;">chemo-sterilant</span></em> (bahan kimia yang dapat memandulkan tikus).</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-17.85pt;margin:6pt 0 .0001pt 17.85pt;"><span style="color:#808000;"><span style="font-size:10pt;font-family:Symbol;" lang="IN">·</span><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;" lang="IN">Fumigasi (asap beracun)</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:21.3pt;"><span style="color:#808000;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;" lang="IN">Fumigasi dapat digunakan pada saat tanaman padi memasuki stadia generatif, karena pada saat itu umpan beracun yang diberikan tidak akan dimakan oleh tikus.Tikus lebih tertarik pada tanaman padi terutama pada bagian malai.Asap beracun dikeluarkan atau diemposkan dengan bantuan alat alat pengempos yang terbuat dari logam tahan panas.Bahan-bahan yang digunakan dalam fumigasi adalah merang ditamabh belerang, kemudian dibakar.Jika tidak ada belerang, merang sendiri dapat digunakan, karena pada pembakaran merang akan dihasilkan gas karbondioksida (CO<sub>2</sub>) dan karbon monoksida (CO) yang juga dapat meracuni tikus.Penambahan belerang akan terbentuk gas belerang dioksida (SO<sub>2</sub>) sebagai tambahan yang dapat membunuh tikus lebih cepat.Kelebihan fumigasi dibandingkan umpan beracun adalah dapat membunuh anak-anak tikus dan kutu yang menempel di kulit tikus, yang tidak mati bila tikus dikendalikan dengan umpan beracun.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:21.3pt;"><span style="color:#808000;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;" lang="IN">Umpan beracun </span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;" lang="IN">biasanya dibuat dari kombinasi antara racun, bahan pemikat, bahan pewarna, bahan pengikat, dan bahan pengawet.Secara umum racun dibedakan menjadi dua kelompok berdasarkan cara kerjanya pada tikus, yaitu racun akut (racun yang cara kerjanya mempengaruhi sistem syaraf tikus) dan racun kronis/racun antikoagulan (racun yang cara kerjanya mempengaruhi atau menghambat proses koagulasi/pembekuan darah).Umpan yang biasa digunakan adalah biji-bijian serealia terutama beras dan jagung karena makanan ini yang paling disukai oleh tikus.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:21.3pt;"><span style="color:#808000;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;" lang="IN">Bahan pemikat (attractant) </span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;" lang="IN">merupakan bahan yang ditambahkan pada umpan tikus dengan tujuan untuk menarik tikus agar mau makan umpan tersebut. Bahan penarik ini biasaya berupa gula atau vetsin (bumbu masak) atau bahan-bahan lain yang merupakan hasil penelitian perusahaan pestisida dan biasanya tidak diberitahukan kepada masyarakat umum.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:21.3pt;"><span style="color:#808000;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;" lang="IN">Bahan pewarna (colouringu) </span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;" lang="IN">yang biasa digunakan adalah pewarna makanan, dan pewarna kain yang mudah larut.Walaupun tikus termasuk hewan yang buta warna, tetapi tikus cenderung tertarik pada warna-warna tertentu, seperti hijau, kuning dan hitam. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:21.3pt;"><span style="color:#808000;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;" lang="IN">Bahan pengikat (binder) </span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;" lang="IN">merupakan bahan yang digunakan untuk mengikat atau melekatkan racun dengan umpan dan bahan-bahan lainnya. Bahan pengikat yang biasa digunakan adalah minyak nabati (tumbuh-tumbuhan) yang berasal dari kelapa, jagung atau kacang tanah.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:21.3pt;"><span style="color:#808000;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;" lang="IN">Bahan pengawet (preservative) </span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;" lang="IN">merupakan bahan digunakan untuk meningkatkan daya tahan rodentisida baik di tempat penyimpanan maupun selama diaplikasikan di lapang terhadap gangguan dari luar, baik gangguan dari makhluk hidup (serangga, cendawan, dan lain-lain) atau gangguan cuaca (hujan, suhu,dan lain-lain).Bahan pengawet/pelindung dari serangan serangga adalah insektisida, dari serangan cendawan adalah fungisida.Yang perlu diperhatikan adalah pemberian pestisida ini dapat mengurangi keinginan tikus utuk memakannya, maka pemberian pestisida ini harus melalui serangkaian percobaan. Bahan pengawet terhadap gangguan cuaca adalah lilin atau parafin, dengan perbandingan lilin 30-40% dan umpan beracun 60-70%.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:6pt 0 .0001pt .25in;"><span style="color:#808000;"><span style="font-size:10pt;font-family:Symbol;" lang="IN">·</span><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;" lang="IN">Repellent (bahan pengusir) dan attractant (bahan pemikat)</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:21.3pt;"><span style="color:#808000;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;" lang="IN">Bahan kimia pengusir ini mula-mula dibuat untuk mengamankan hasil pertanian yang disimpan di gudang dari serangan tikus dan burung. Dari hasil pengujian terhadap beberapa bahan kimia, ada beberapa jenis yang dapat berfungsi sebagai bahan pengusir yaitu naftalen, kapur, bubuk belerang, dan ekstrak buah cabai.Dalam pelaksanaannya, untuk mengusir tikus-tikus di lapang masih ditemui beberapa kesukaran.Sedangkan bahan kimia penarik dapat dicampurkan ke dalam umpan beracun untuk menarik tikus atau dapat digunakan sebagai umpan yang diletakkan di dalam perangkap tikus.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-17.85pt;margin:6pt 0 .0001pt 17.85pt;"><span style="color:#808000;"><span style="font-size:10pt;font-family:Symbol;" lang="IN">·</span><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;" lang="IN">Chemo-sterilant (bahan pemandul)</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:21.3pt;"><span style="color:#808000;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;" lang="IN">Cara kerja bahan ini di dalam tubuh tikus bersifat khusus seperti halnya bahan-bahan kontrasepsi pada manusia, yaitu :</span></span></p>
<ul>
<li><span style="color:#808000;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;" lang="IN">Menghambat pembentukan sel telur,</span></span></li>
<li><span style="color:#808000;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;" lang="IN">Menghambat terjadinya pembuahan (pertemuan sel sperma dengan sel telur),</span></span></li>
<li><span style="color:#808000;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;" lang="IN">Mencegah terjadinya penempelan embrio pada dinding rahim,</span></span></li>
<li><span style="color:#808000;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;" lang="IN">Menyebabkan keguguran,</span></span></li>
<li><span style="color:#808000;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;" lang="IN">Menghambat pembentukan air susu pada induk tikus, dan</span></span></li>
<li><span style="color:#808000;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;" lang="IN">Menjadikan keturunannya tikus mandul.</span></span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:21.3pt;"><span style="color:#808000;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;" lang="IN">Dalam prakteknya di lapang, bahan kimia pemandul ini sukar diterapkan karena dalam pembuatannya membutuhkan biaya yang tinggi dan hasil yang dicapai masih belum memuaskan</span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color:#808000;"> </span></p>
<p class="MsoNormal">
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tohariyusuf.wordpress.com/274/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tohariyusuf.wordpress.com/274/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tohariyusuf.wordpress.com/274/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tohariyusuf.wordpress.com/274/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tohariyusuf.wordpress.com/274/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tohariyusuf.wordpress.com/274/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tohariyusuf.wordpress.com/274/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tohariyusuf.wordpress.com/274/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tohariyusuf.wordpress.com/274/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tohariyusuf.wordpress.com/274/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tohariyusuf.wordpress.com/274/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tohariyusuf.wordpress.com/274/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tohariyusuf.wordpress.com/274/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tohariyusuf.wordpress.com/274/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tohariyusuf.wordpress.com&amp;blog=3257335&amp;post=274&amp;subd=tohariyusuf&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tohariyusuf.wordpress.com/2010/03/02/hama-tikus-dan-pengendaliannya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		<georss:point>-8.201022 111.973777</georss:point>
		<geo:lat>-8.201022</geo:lat>
		<geo:long>111.973777</geo:long>
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/85b6f615e8bd7ec86ab5254a97e6c138?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">TOHARI YUSUF</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Virus Gemini/Brekele pada Tanaman Cabai</title>
		<link>http://tohariyusuf.wordpress.com/2010/02/19/virus-geminibrekele-pada-tanaman-cabai/</link>
		<comments>http://tohariyusuf.wordpress.com/2010/02/19/virus-geminibrekele-pada-tanaman-cabai/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Feb 2010 13:55:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>TOHARI YUSUF</dc:creator>
				<category><![CDATA[1]]></category>
		<category><![CDATA[brekele]]></category>
		<category><![CDATA[mencegah virus gemini]]></category>
		<category><![CDATA[penyakit tanaman cabai]]></category>
		<category><![CDATA[Virus gemii]]></category>
		<category><![CDATA[virus kuning]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tohariyusuf.wordpress.com/?p=228</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa saat yang lalu mungkin postingan ini tidaklah seperti ini namun untuk kali ini saya memberanikan diri untuk menulis tentang virus gemini ini atau di tempat saya sering disebut dengan penyakit brekele, virus ini pada beberapa tahun yang lalu (sekitar 2004) di tempat saya bukanlah penyakit yang penting, namun pada beberapa tahun terakhir ini penyakit [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tohariyusuf.wordpress.com&amp;blog=3257335&amp;post=228&amp;subd=tohariyusuf&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color:#808000;">Beberapa saat yang lalu mungkin postingan ini tidaklah seperti ini namun untuk kali ini saya memberanikan diri untuk  menulis tentang virus gemini ini atau di tempat saya sering disebut dengan penyakit brekele, virus ini pada beberapa tahun yang lalu (sekitar 2004) di tempat saya bukanlah penyakit yang penting, namun pada beberapa tahun terakhir ini  penyakit yang diakibatkan virus ini merupakan momok yamg teramat momok bagi petani hortikultura (misal cabai, tomat, semangka, melon dll), karena virus ini menurut pengalaman yang pernah saya alami, mampu menggagalkan budidaya hingga 90%, bahkan pernah semangka saya yang baru berumur 23 hari saya cabut semuanya karena terserang virus ini, virus ini sejauh yang saya tahu memang belum ada pengobatannya, dan saat tanaman saya sendiri terserang virus ini  belum pernah berhasil mengatasinya. Namun dengan cara pencegahan saya sedikit bisa bernafas lega, tanaman saya 1.5 tahun terakhir  ini terbebas dari serangan virus ini. Menyiasati dan mengantisipasi gangguan penyakit virus ini bisa dimulai dengan mengetahui pengetahuan dasar tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan virus gemini ini, sehingga dapat dijadikan sebagai titik tolak dalam mengupayakan pengendaliannya baik pengendalian yang bersifat prefentif atau kuratif. Berikut ini adalah beberapa litteratur yang saya kumpulkan dari beberapa sumber yang berkaitan dengan virus ini dan sekaligus cara budidaya yang pernah saya lakukan untuk mengendalikan virus ini:</span></p>
<p><span style="color:#808000;">Masa inkubasi virus gemini adalah 15 &#8211; 29 hari artinya semenjak tanaman dihinggapi virus dibutuhkan waktu 15 &#8211; 29 hari sampai tanaman tersebut memperlihatkan gejala terserang penyakit virus tersebut.</span></p>
<p><span style="color:#808000;">Penularan virus ini adalah melalui cairan pada tanaman yang terkena virus ini yang kemudian dibawa oleh hama sebagai vektor (pembawa), dimana hama tersebut menyerang tanaman yang terkena virus kemudian pindah ketanaman yang sehat.</span></p>
<p><span style="color:#808000;">Hama yang menjadi vektor virus ini misalnya thrips, kutu kebul, hama <span style="text-decoration:line-through;">dewi</span> persic, tungau,bahkan diduga manusiapun bisa menjadi vektor virus ini, namun menurut penelitian dari IPB virus ini tidak ditularkan oleh manusia melalui cairan yang terbawa oleh manusia saat orang tersebut menyentuh cairan tanaman yang terluka, namun begitu kita harus waspada terhadap penularan yang dilakukan oleh kita (manusia) sendiri saat kita melakukan perawatan, ada dugaan prinsip dari penularan virus ini melalui pelukaan pada bagian tubuh tanaman entah (ini betul apa engga namun hal ini harus kita jadikan tolok ukur untuk kewaspadaan kita dan kita anggap saja memang begitu).</span></p>
<p><span style="color:#808000;">Ciri-ciri tanaman yang terkena virus ini antara lain: tepi daun melengkung keatas, mengeriting, warna daun kekuningan agak belang, pertumbuhan kerdil bahkan cenderung berhenti, sedikit menghasilkan buah atau bahkan tidak berbuah sama sekali kalaupun berbuah bentuknya tidak normal dan relatif kecil. Gejala serangan dapat ditemui mulai dari kecambah sampai tanaman tua. Serangan virus ini mirip dengan penyakit fisiologis kekurangan unsur boron, ataupun juga mirip serangan hama thrips.</span></p>
<p><span style="color:#808000;">Dan hal-hal yang perlu kita lakukan (ini yang pernah saya lakukan entah faktor kebetulan apa memang virus ini bisa dikedalikan dengan cara ini) adalah:</span></p>
<ul>
<li><span style="color:#808000;">Menekan sepenuhnya pertumbuhan hama-hama vektor terutama kutu kebul, karena hama inilah yang diduga paling kuat menjadi vektor virus ini.</span></li>
<li><span style="color:#808000;">Menanam tanaman perangkap untuk kutu kebul, dan tanaman ini kita tanam pada pinggir lahan pertanaman kita (sebagai border), dan kita harus merawat tanaman border ini sama seperti tanaman inti yang kita usahakan, tanaman perangkap yang saya gunakan adalah tanaman kacang panjang.</span></li>
<li><span style="color:#808000;">Tidak menanam pada lahan yang sekitarnya terjadi serangan virus gemini ini.</span></li>
<li><span style="color:#808000;">Merotasi tanaman dengan tanaman diluar keluarga tanaman solanaceae (terung-terungan) dan cucutyledoneae (timun-timunan). Dalam arti kita jangan terus menerus membudidayakan tanaman dari keluarga terung-terungan misal terung, cabai, tomat,dll ataupuan dari keluarga timun-timunan misal mentimun, semangka, melon dll.</span></li>
<li><span style="color:#808000;">Mengurangi sesedikit mungkin pelukaan pada tanaman yang kita usahakan, misal pemasangan ajir / lanjaran dilakukan sebelum kita melakukan penanaman darena saat kita memasang ajir / lanjaran saat tanaman sudah cukup besar maka akar akan terluka oleh ajir kita. Tidak melakuakan perempelan tunas lateral (tunas samping / tunas air) walaupun ini bertentangan dengan teknik budidaya (dimana tunas lateral harus dirempel) namun bila kita melakukan perempelan pada tanaman yang terkena virus maka tangan kita akan menjadi sarana tumpagan virus untuk berpindah ketanaman yang sehat.</span></li>
</ul>
<ul>
<li><span style="color:#808000;">Lebih baik mengusahakan tanaman di musim penghujan karena saat musim penghujan populasi hama thrips, dan kutu kebul sangatlah kecil, namun kita harus waspada terhadap serangan jamur.</span></li>
<li><span style="color:#808000;">Gunakan mulsa plastik hitam perak yang baru<br />
</span></li>
</ul>
<p><span style="color:#808000;">Akhirnya yang teramat penting, kita harus berdo&#8217;a karena sebagai manusia kita hanya berusaha dan itu tugas dan kewajiban kita sedangkan ketentuan mutlak hanya Tuhan yang Maha Kuasa, dan semua yang saya tulis ini adalah dari berbagai sumber serta pengalaman pribadi saya sendiri yang mungkin serba kebetulam saja tanaman saya tidak terkena virus ini setelah saya berpatokan pada pemikiran-pemikiran diatas karena tak lain tak bukan saya adalah manusia yang bodoh dan mohon maaf bila apa yang telah saya tulis ini tidak berlaku pada tanaman yang anda budidayakan karena apa yang saya lakukan hanyalah <em>trial and errors</em> dan tidak diuji secara pasti/klinis tanpa menggunakan metode ulagan dan sidik ragam, mudah mudahan ada guna dan manfaatnya. Amiiin&#8230;.</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tohariyusuf.wordpress.com/228/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tohariyusuf.wordpress.com/228/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tohariyusuf.wordpress.com/228/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tohariyusuf.wordpress.com/228/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tohariyusuf.wordpress.com/228/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tohariyusuf.wordpress.com/228/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tohariyusuf.wordpress.com/228/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tohariyusuf.wordpress.com/228/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tohariyusuf.wordpress.com/228/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tohariyusuf.wordpress.com/228/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tohariyusuf.wordpress.com/228/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tohariyusuf.wordpress.com/228/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tohariyusuf.wordpress.com/228/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tohariyusuf.wordpress.com/228/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tohariyusuf.wordpress.com&amp;blog=3257335&amp;post=228&amp;subd=tohariyusuf&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tohariyusuf.wordpress.com/2010/02/19/virus-geminibrekele-pada-tanaman-cabai/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>43</slash:comments>
		<georss:point>-8.201022 111.973777</georss:point>
		<geo:lat>-8.201022</geo:lat>
		<geo:long>111.973777</geo:long>
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/85b6f615e8bd7ec86ab5254a97e6c138?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">TOHARI YUSUF</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Melawan Thrips dengan Bawang Putih</title>
		<link>http://tohariyusuf.wordpress.com/2010/01/20/melawan-thrips-dengan-bawang-putih/</link>
		<comments>http://tohariyusuf.wordpress.com/2010/01/20/melawan-thrips-dengan-bawang-putih/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 Jan 2010 17:03:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>TOHARI YUSUF</dc:creator>
				<category><![CDATA[1]]></category>
		<category><![CDATA[cabai]]></category>
		<category><![CDATA[hama tanaman cabi]]></category>
		<category><![CDATA[hama thrips]]></category>
		<category><![CDATA[thripsdan bawang putih]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tohariyusuf.wordpress.com/?p=240</guid>
		<description><![CDATA[Cara ini mugkin termasuk sederhana dan mugkin telah banyak diterapkan banyak petani di Indonesia, namun saya akan berbagi lagi sebuah pengalama pribadi dengan para pembaca yang mungkin ini merupakan sebuah pengalaman yang bisa dikatakan ngawur namun sayatelah membuktikannya. Pengetahuan saya ini berawal dari majalah Trubus yang telah usang Edisi bulan (lupa) tahun 98 yang menulis [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tohariyusuf.wordpress.com&amp;blog=3257335&amp;post=240&amp;subd=tohariyusuf&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color:#008000;">Cara ini mugkin termasuk sederhana dan mugkin telah banyak diterapkan banyak petani di Indonesia, namun saya akan berbagi lagi sebuah pengalama pribadi dengan para pembaca yang mungkin ini merupakan sebuah pengalaman yang bisa dikatakan ngawur namun sayatelah membuktikannya.</span></p>
<p><span style="color:#008000;">Pengetahuan saya ini berawal dari majalah Trubus yang telah usang Edisi bulan (lupa) tahun 98 yang menulis bahwa bawang putih yang sering kita ketahui sebagai bumbu dapur ternyata mempunyai peran dalam praktek pertanian organik. Bawang putih yang beraroma gurih itu ternyata tidak disukai oleh hama thrips dan mampu mengusir thrips. </span></p>
<p><span style="color:#008000;">Hama thrips ini biasanya menyebabkan tanaman (khususnya hortikultura) daunnya keriput berukuran kecil kalau menyerang tanaman cabai bisa menyebabkan daun keriting. Selain itu hama thrips juga sebagai <em>vektor </em>(pembawa) <a href="http://tohariyusuf.wordpress.com/2010/02/19/virus-geminibrekele-pada-tanaman-cabai/">virus <em>gemini</em></a> yang gejalanya mirip serangan thrips itu sendiri namun tanaman biasanya menjadi sangat kerdil dan daunnya berwarna kuning (makanya sering disebut virus kuning). Hama thrips yang biasanya  menyerang bagian tanama yang masih muda,  walaupun bila serangan meledak daun yang sudah tuapun tak luput dari serangan hama ini merupakan hama yang sangat merugikan dan semakin hebat serangannya saat musim kemarau, dan hama ini tidak mengenal hama cowok karena telur bisa menetas tanpa dibuahi (<em>partenogenesis).</em></span></p>
<p><span style="color:#008000;">Kembali lagi ke Bawang putih, bawang putih yang di haluskan dan disemprotkan ke tanaman akan masuk kedalam jaringan tanaman(baca tehnik penyemprotan yang benar <a href="http://tohariyusuf.wordpress.com/2010/01/15/pemupukan-dan-penyemprotan-lewat-daun/"><strong>disisni</strong> </a>).<br />
Karena hama thrips ini tidak suka dengan bawang maka hama akan kabur dari tempat persembunyiannya. Pegendalian ramah lingkungan ini bisa dikombinasikan dengan insektisida kimia untuk thrips misal Confidor (imidacloprit), Regent 50 SC (fipronil), Agrimec (abamectin) , saat thrips keluar dari tempat persembnyianya di pucuk tunas ataupun di dalam bunga maka dia akan mati karena insektisida yang telah disemprotkan, mungkin kira-kira begitulah prosesnya kenapa hama thrips bisa terkendali, karena yang selama ini saya baca di letteratur, bawang putih tidak bisa membunuh thrips namun bawang putih hanya mampu mengusirnya.<br />
Namun dari pengalaman pribadi saya pada tanaman cabai yang saya budidayakan, dari yang semula trips yang  disemprot insektisida saja tetap saja menyisakan thrips pada pucuk muda, namun setelah ditambahkan bawang putih 2-3 kg untuk setiap 100 liter air (yang telah dicampurkan insektisida dan pupuk daun) ternyata hama thrips itu bisa dikendalikan dengan baik.Dan mudah-mudahan pengalaman yang sederhana dan sedikit ini bisa membantu para pengunjung di blog saya ini untuk mengatasi hama thrips.</span></p>
<p><span style="color:#008000;">Oh iya&#8230; hampir lupa bawang putih cukupdi tumbuk halus/diselep dan dimasukkan kedalam air ngga usah di fermentasi.<br />
</span>Semoga bermanfaat&#8230;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tohariyusuf.wordpress.com/240/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tohariyusuf.wordpress.com/240/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tohariyusuf.wordpress.com/240/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tohariyusuf.wordpress.com/240/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tohariyusuf.wordpress.com/240/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tohariyusuf.wordpress.com/240/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tohariyusuf.wordpress.com/240/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tohariyusuf.wordpress.com/240/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tohariyusuf.wordpress.com/240/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tohariyusuf.wordpress.com/240/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tohariyusuf.wordpress.com/240/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tohariyusuf.wordpress.com/240/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tohariyusuf.wordpress.com/240/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tohariyusuf.wordpress.com/240/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tohariyusuf.wordpress.com&amp;blog=3257335&amp;post=240&amp;subd=tohariyusuf&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tohariyusuf.wordpress.com/2010/01/20/melawan-thrips-dengan-bawang-putih/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>40</slash:comments>
		<georss:point>-8.201022 111.973777</georss:point>
		<geo:lat>-8.201022</geo:lat>
		<geo:long>111.973777</geo:long>
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/85b6f615e8bd7ec86ab5254a97e6c138?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">TOHARI YUSUF</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PEMUPUKAN DAN PENYEMPROTAN LEWAT DAUN</title>
		<link>http://tohariyusuf.wordpress.com/2010/01/15/pemupukan-dan-penyemprotan-lewat-daun/</link>
		<comments>http://tohariyusuf.wordpress.com/2010/01/15/pemupukan-dan-penyemprotan-lewat-daun/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 15 Jan 2010 13:04:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>TOHARI YUSUF</dc:creator>
				<category><![CDATA[1]]></category>
		<category><![CDATA[cara penyemprotan]]></category>
		<category><![CDATA[pemupukan lewat daun]]></category>
		<category><![CDATA[pupuk daun]]></category>
		<category><![CDATA[stomata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tohariyusuf.wordpress.com/?p=229</guid>
		<description><![CDATA[Diantara sekian banyak metode pemupukan salah satunya adalah pemupukan lewat daun. Pemupukan lewat daun ini mempunyai beberapa kelebihan dan kekurangan. Kelebihan pemupukan lewat daun ini diantaranya adalah: Penyerapan unsur haranya relatif lebih cepat. Bisa ditambahkan unsur mikro, karena pupuk (kimia) yang dilewatkan akar kebanyakan hanya megandung unsur hara makro saja, kecuali kalau tanah sering diberi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tohariyusuf.wordpress.com&amp;blog=3257335&amp;post=229&amp;subd=tohariyusuf&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color:#808000;">Diantara sekian banyak metode pemupukan salah satunya adalah pemupukan lewat daun. Pemupukan lewat daun ini mempunyai beberapa kelebihan dan kekurangan. Kelebihan pemupukan lewat daun ini diantaranya adalah:</span></p>
<ol>
<li><span style="color:#808000;">Penyerapan unsur haranya relatif lebih cepat.</span></li>
<li><span style="color:#808000;">Bisa ditambahkan unsur mikro, karena pupuk (kimia) yang dilewatkan akar kebanyakan hanya megandung unsur hara makro saja, kecuali kalau tanah sering diberi pupuk organik maka pupuk hara mikro tersedia juga.</span></li>
<li><span style="color:#808000;">Tidak terjadi pengikatan unsur hara seperti halnya tanah dimana sebagian unsur hara akan diikat dengan kuat oleh partikel tanah dan sulit untuk dilepaskan sehingga;</span></li>
<li><span style="color:#808000;">Tanah akan terhindar dari kerusakan.</span></li>
</ol>
<p><span style="color:#808000;">Perlu diperhatikan bahwa pemupukan lewat daun sebaiknya disemprotkan melalui bagian bawah permukaan daun dan dilakukan pada pagi hari, karena masuknya pupuk daun melalui <em>stomata</em> (mulut daun) dimana stomata ini merupakan lubang untuk transpirasi dan juga sekaligus untuk masuknya cairan baik yang berupa  pupuk atau pestisida yang bersifat  sistemik, <strong>dan stomata ini sebagian besar terdapat dibawah permukaan daun</strong>. Membuka dan menutupnya stomata berkaitan dengan tekanan turgor melaului proses <em>defusi-osmosis</em>, dan proses defusi-osmosis pada daun di pengaruhi oleh sinar matahari. Oleh karena itu penyemprotan sebaiknya dilakukan setelah ada sinar matahari namun penyemprotan sebaiknya dihentikan setelah sinar matahari sudah mulai terasa terik, karena sebagian unsur akan lebih banyak menguap bila matahari semakin panas dan angin lebih kencang berhembus. Sementara bila penyemprotan dilakukan pada sore hari juga tidak terlalu efektif karena pada sore hari biasanya angin lebih kencang berhembus sehingga akurasi penyemprotan tidak sempurna, dan sinar matahari segera menghilang sehingga stomata juga segera menutup. Sementrara proses masuknya unsur hara kedalam daun yang optimal memakan waktu sekitar 2-4 jam.</span></p>
<p><span style="color:#808000;">Penyemprotan pada bagian bawah permukaan daun ini juga mempunyai keuntungan lain yaitu bila  pupuk daun dicampur dengan pestisida (walaupun tidak ada anjuran mencampurnya tetapi hal itu bisa, boleh dan syah saja dilakukan) akan bisa mengendalikan hama-hama yang ada pada tanaman, karena sebagian besar hama bersembunyi pada permukaan daun bagian bawah, demikian juga halnya dengan<em> fung</em>i / jamur yang sebagian besar menyerang pada bagian bawah tanaman yang terhindar dari sinar matahari langsung. Namun purlu diingat penggunaan pestisida sebaiknya dilakukan sebijaksana mungkin, dengan mempertimbangkan faktor lingkungan dan kesehatan karena residu efek yang disebabkan pestisida tersebut akan berbahaya untuk jangka pendek ataupun panjang. Penyemprotan (secara teori dan anjuran) sebaiknya dilakukan setelah hama mencapai ambang batas pengendalian.</span></p>
<p><span style="color:#808000;">Oleh karena itu yang perlu dijadikan catatan adalah, penyemprotan tanaman sebaiknya dilakukan pada pagi hari dan dihentikan saat matahari terik, serta disemprotkan pada bagian bawah permukaan daun.</span></p>
<p>Semoga Bermanfaat&#8230;</p>
<p style="padding-left:30px;">
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tohariyusuf.wordpress.com/229/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tohariyusuf.wordpress.com/229/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tohariyusuf.wordpress.com/229/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tohariyusuf.wordpress.com/229/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tohariyusuf.wordpress.com/229/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tohariyusuf.wordpress.com/229/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tohariyusuf.wordpress.com/229/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tohariyusuf.wordpress.com/229/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tohariyusuf.wordpress.com/229/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tohariyusuf.wordpress.com/229/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tohariyusuf.wordpress.com/229/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tohariyusuf.wordpress.com/229/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tohariyusuf.wordpress.com/229/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tohariyusuf.wordpress.com/229/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tohariyusuf.wordpress.com&amp;blog=3257335&amp;post=229&amp;subd=tohariyusuf&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tohariyusuf.wordpress.com/2010/01/15/pemupukan-dan-penyemprotan-lewat-daun/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>37</slash:comments>
		<georss:point>-8.201022 111.973777</georss:point>
		<geo:lat>-8.201022</geo:lat>
		<geo:long>111.973777</geo:long>
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/85b6f615e8bd7ec86ab5254a97e6c138?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">TOHARI YUSUF</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
